UJIAN HIDUP

 

(Sumber foto: https://www.pexels.com/id-id/foto/sehat-orang-hati-tangan-4386466/)


Puasa Ramadhan tinggal 9 hari lagi. Keluarga kami malah diuji dengan sakit yang diderita kedua anak kami, sakit biasa sih, hanya demam dan batuk pilek. Namun, sakitnya mereka di waktu yang bersamaan itulah yang cukup menguras tenagaku. 

Kedua anakku yang selisih usianya hanya terpaut satu tahun saja membuatku kewalahan dalam mengurusnya. Satunya minta digendong, satunya lagi minta ditemani tidur. Ya Allah, badanku hanya satu, ujarku membatin. 

Di saat bersamaan ada rasa sedih dan kesal karena tidak bisa berlaku adil untuk mereka berdua. Jangankan saat sakit, di saat sehat-sehat saja terkadang aku sulit untuk berlaku adil. 

Anak sulungku yang memiliki perasaan begitu peka, terlihat sangat sedih ketika aku lebih memilih menggendong adiknya. Kesedihannya sangat terasa dibatinku. Mama harus apa, Kak. Maafkan mama, ya

Melihat raut wajah sulungku yang tak kuat menahan sedih yang disertai tantrum yang menjadi-jadi, menggerakkan hatiku untuk berlaku adil. Nggak bisa ambil adik terus, kakak juga butuh perhatianku. 

Kududukkan anak bungsuku di sofa dengan penolakan yang meraung-raung. "Tidak, adek mau sama mama!" ujarnya dengan lantang. "Mama ambil kakak dulu, ya, dek," balasku. Kalian bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya? Kakak malah menolak pelukanku dan menyuruhku menjauh darinya. Iya, dia terlanjur kecewa. 

Seketika aku merasakan sakit yang begitu dalam. Penolakan yang sulit aku terima. Di saat fisiknya sedang sakit, aku malah menambah sakit hatinya. Apa yang harus aku lakukan? Meminta tolong pada suamiku pun tak bisa menyelesaikan masalah, karena keduanya hanya ingin menempel padaku. 

Setelah anak sulungku sudah kembali pulih, kondisinya lebih bisa dikontrol oleh suamiku. Hanya saja, anak bungsuku masih belum pulih sehingga ia masih terus menempel denganku. Meski saat ini aku pun sedang merasakan sakit disekujur tubuhku. Suhu badanku di angka 38, demam, sakit kepala, batuk-batuk, serta tulang-tulang kaki yang ikut ngilu. 

Semua rasa sakit ini kuterima dengan ikhlas, sebab aku sadar bahwa ujian hidupku hanya sebatas sakit biasa, yang hanya datang pada waktu-waktu tertentu saja. Jika berkaca dari ujian hidup orang lain yang ujiannya jauh lebih berat, tentu saja ujianku ini tidak ada apa-apanya sehingga tidak ada alasan untuk tidak bersabar dan bersyukur.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KELABU

BISING

Kesalahan Mengatasi Sibling Rivalry