KELABU
Kelabu, seperti itulah gambaran hatiku hari ini. Tak bersemangat
dan bergairah seperti hari-hari sebelumnya. Apa karena fisikku yang belum sehat
sepenuhnya? Bisa jadi iya.
Sebab tubuhku yang tidak begitu fit memengaruhi rutinitas hari ini, rutinitas yang semula sudah terjadwal tiba-tiba berubah. Aku pernah membaca sebuah teori bahwa rutinitas yang berubah berpeluang besar menimbulkan tantrum pada anak.
Benar saja, rupanya kondisiku saat ini memengaruhi emosional anak-anakku. Aku yang tidak bisa menemani mereka bermain seperti biasanya ternyata berpengaruh pada mental mereka. Jangan di tanya berapa kali mereka berdua tantrum seharian ini. Di awali dengan
rebutan mainan, sulit memasang kepingan
puzzle yang membuat mereka akhirnya stres, menangis, dan meraung-raung.
Tidak hanya itu, sore hari drama tantrum pun kembali terjadi
disebabkan suamiku tidak mengajak kakak bermain sepeda di halaman rumah, kakak
yang melihat adiknya sedang asyik bersepeda ditemani sang ayah, tiba-tiba marah
dan berteriak menyuruh ayahnya untuk datang mengambilnya.
Adik yang ditinggal sebentar oleh ayahnya tidak menerima dengan
membanting sepedanya ke tanah, lalu menangis meraung-raung. Tiba-tiba suara
mereka berdua menguasai seisi komplek. Aku yang sudah terbiasa mendengar
anak-anak tantrum tidak begitu peduli dengan tetangga yang mungkin merasa
terganggu dengan tangisan mereka.
Lagi pula komplek kami memang lebih banyak anak kecil seumuran
anakku. Tangisan dan teriakan anak kecil sudah pasti dimaklumi oleh tetangga
sekitar.
Sungguh, hari ini hatiku sangat kelabu. Tak kuasa mendengar tangisan mereka seharian ini. Jiwaku meronta-ronta ingin melayangkan cubitan kecil di tubuh mereka. "Diam gak!" kataku dengan mata melotot. "Kakak sama adik seharian ini nangis terus. Kasian itu matanya udah bengkak, udahan, ya nangisnya" pintaku dengan nada yang mulai turun.
Meskipun ujian hidupku terdapat pada hadirnya anak, kupikir ini
bukan ujian hidup yang mudah. Di sisi lain aku pun sadar bahwa kapasitas diriku
tidak sebesar mereka yang memiliki ujian hidup yang lebih rumit. Aku yang hanya
diuji oleh pola tingkah anak-anakku saja sudah membuat kesabaranku ikut runtuh.
Bersamaan dengan itu aku merasa bukan ibu yang baik, bukan ibu
yang patut dijadikan contoh dalam mengelola emosi. Aku paham bahwa caraku
mengekspresikan amarahku akan dicontoh oleh anak-anakku. Khawatir tapi juga
sulit.
Aku ingin hari yang penuh riuh dan bising ini segera berakhir, dan terganti dengan hari esok yang lebih tenang. Sebab kuingin memeluk kedua anakku tanpa rasa penyesalan, pelukan yang begitu hangat dan penuh kasih.
Kejadian hari ini seolah menyadarkanku bahwa hidup tak selamanya baik-baik saja. Dan diri ini harus siap menghadapi hari yang buruk serumit apa pun itu.

Komentar
Posting Komentar