Kesalahan Mengatasi Sibling Rivalry

Menghadapi dua orang anak yang sedang berkelahi adalah hal yang sangat menguji kesabaran. Apalagi kejadian itu terjadi disaat kita sedang melakukan aktivitas yang lain, misalnya sedang memasak di dapur, dan tiba-tiba terdengar suara teriakan perkelahian anak-anak. Hal yang saya rasakan disaat itu adalah sulitnya mengontrol diri untuk tetap tenang. Sepertinya otak saya ini  secara tiba-tiba menerima stimulus yang cukup besar sehingga menghasilkan respon yang juga cukup besar. Kesannya seperti wasit yang tiba-tiba membunyikan pluit dengan kencang. Akhirnya apa? Akhirnya saya pun terbawa suasana, jadi berteriak juga untuk menghentikan keduanya.

Sebenarnya respon kita saat tiba-tiba mendapati anak kita berkelahi bisa di atur supaya lebih tenang dan bersikap lebih lembut. Tapi, ini butuh latihan terus, latihan lagi, dan lagi.

Namun, seringkali tanpa kita sadari ada beberapa kesalahan yang kita lakukan saat sedang menghadapi anak yang rebutan mainan. Nah, ketika anak-anak rebutan mainan pasti akan ada anak yang menang (mendapatkan mainan), dan juga ada yang kalah dan menangis histeris (pada anak usia 1-3 tahun biasanya terjadi tantrum). Misalnya, jika kasusnya yang menang adalah kakak, dan yang kalah adalah adik.  

Ketika kakak merasa otoritasnya terganggu (mainannya direbut) oleh adiknya, maka dia akan berusaha mempertahankannya dengan cara menyerang atau memukul adiknya. Dari beberapa literatur yang saya baca bahwasanya memukul adalah tindakan spontan yang dilakukan anak sebagai wujud pertahanan dirinya.

Akan tetapi, kesalahan yang sering terjadi, kita akan marah besar kepada kakak yang tidak meminjamkan mainannya kepada adiknya, dan membela adik habis-habisan di depan kakak. Bahkan mewajibkan kakak harus selalu mengalah pada adiknya. Padahal tidak selamanya kakak harus mengalah terus-terusan ke adiknya. Kenapa disebut kesalahan?

Perlu kita sadari bahwa kakak hanya berusaha mempertahankan haknya atau miliknya. Dimana konsep kepemilikan ini penting diajarkan ke anak. Kenapa penting? Agar anak bisa membedakan mana barang milik dia, mana barang milik adiknya, mana barang milik ayah/ibu. Pun ketika dia bersosialisasi atau bergaul dengan temannya, dia sudah paham jika ingin memakai barang temannya harus meminta izin terlebih dahulu. Sehingga anak pun mampu mengendalikan dirinya untuk tidak memaksakan keinginannya. Tetapi dalam kasus ini memang cara kakak mempertahankan miliknya itulah yang kurang tepat. Sehingga kakak butuh arahan ibu dan ayah.

Selanjutnya, membela adik habis-habisan di depan kakak apalagi sambil berkata “kakaknya nakal ya ke adik” Dimana ini merupakan kesalahan besar memberi label (sebutan) buruk pada anak. Tanpa sadar, hal ini akan menjadi kebiasaan untuk terus-terusan menyebut anak nakal.  Karena sebenarnya tidak ada anak yang nakal, yang ada anak yang butuh arahan dari orang tuanya. Yap, anak butuh diarahkan bukan di labeli dengan sebutan yang buruk. Melabeli anak dengan sebutan yang buruk memberikan efek yang luar biasa pada perkembangan anak. Anak merasa rendah diri, tidak percaya diri, bahkan akan memicu anak untuk bersikap sesuai dengan label yang diberikan.

Sikap kita membela habis-habisan sang adik, akan membuatnya merasa selalu dibela atau dibenarkan segala tindakannya meskipun suatu saat nanti ia melakukan hal yang sama.

Selanjutnya, ini adalah kesalahan yang pernah saya lakukan. Awalnya saya tidak merasa bahwa ini sebuah kesalahan, malah menurut saya ini sebuah tindakan yang benar bahkan wajar orang tua lakukan. Tetapi ternyata tindakan yang saya anggap benar ini menimbulkan efek negatif.  

Jadi begini ceritanya.....

Saat usia kakak menginjak 2,5 tahun dan adik 1,5 tahun, itulah pertama kali sibling rivalry muncul antara keduanya, yang ditandai dengan kakak memukul adik bahkan mendorong badan adiknya hingga terjatuh. Saat mendapati situasi tersebut, saya langsung memeluk adiknya dengan penuh rasa kecewa dengan perlakuan kakak terhadapnya. Saya pun merasa terpukul melihat adik yang dipukul hingga terjatuh. Sedih, kecewa, marah, bahkan sakit hati "ko bisa kakak kayak gitu ke adiknya?" Yang tanpa sadar saya membentak dan mencubit kakak sesaat setelah memeluk adiknya. Hingga berlanjut di hari-hari selanjutnya ketika kakak ingin memukul adiknya, saya selalu melindungi badan adik, dan menahan tangan kakak hingga membentaknya. Bentakan itu spontan membuat kakak takut yang tak jarang membuatnya ikut menangis.

Lalu, ketika adik sudah bisa melawan dan memukul balik kakaknya, ternyata tenaga adik untuk memukul jauh lebih dahsyat dari kakaknya. Sehingga ketika saya mendapati adik yang ingin memukul kakaknya, saya langsung menahan badan dan tangannya (seperti memeluk). Setelah itu beralih memeluk kakak yang kaget dan menangis karena dipukul oleh adiknya. Tetapi apa yang terjadi? Kakak malah takut, menolak untuk dipeluk, dan berlari ke ayahnya untuk meminta tolong. Padahal niat memeluk kakak adalah cara yang ingin saya lakukan untuk menenangkannya yang juga pasti sama seperti saya memeluk adiknya ketika dipukul oleh kakaknya.  

Hampir setiap hari ketika mereka berdua berkelahi dan adik yang duluan memukul kakak, cara memeluk dan menahan tangan adik pun selalu saya lakukan. Dengan niat untuk melindungi kakak, sehingga adik tidak terlanjur agresif ke kakaknya. Dan saya pun berulang kali beralih memeluk kakak agar dia bisa lebih tenang. Namun ternyata berulang kali pula kakak memberikan respon yang sama, yaitu menolak dengan menepis kedua tangan saya serta menangis histeris "mana ayah, mana ayah" Dia malah mencari-cari ayahnya untuk berlindung.

Beberapa hari berikutnya, saya chatingan dengan salah seorang teman, dia pun bertanya tentang pengalaman saya menghadapi anak-anak. Setelah saya menceritakan bagaimana cara saya menghadapi anak-anak ketika saling pukul, tiba-tiba statemen teman saya ini sangat membuat saya kaget, dia bilang begini "sebenarnya tindakan memeluk adik saat dia ingin memukul kakaknya akan membekas di diri kakak sampai dia besar nanti. Karena berdasarkan pengalaman masa kecil suaminya yang ketika berkelahi, selalu yang dipeluk adalah adiknya, meski adik yang memukul. Tetapi dari sudut pandang orang tua, memeluk tadi maksudnya sekaligus menahan tangan adik agar kakak terhindar dari sikap agresif adiknya."

WAH TERJAWAB SUDAH kenapa kakak selalu menghindar bahkan ketakutan disaat saya mengulurkan kedua tangan untuk memeluknya saat dia dipukul oleh adiknya. Rupanya tindakan saya ke adik yang terlihat sama, yaitu sama-sama memeluk adik ketika dia dipukul oleh kakaknya dan ketika dia memukul kakaknya. Malah membuat kakak berpikir bahwa adik adalah yang benar, dan kakak adalah yang salah dan akan mendapat hukuman dari saya. Harusnya yang saya lakukan ketika adik memukul kakak adalah memeluk kakak terlebih dahulu, bukan menahan badan adiknya (meskipun niatnya baik agar adik menyudahi pukulannya ke kakak). Sehingga membuat kakak berpikir bahwa pelukan yang saya berikan dianggap sebagai hukuman yang akan menyakiti dirinya. Sungguh ini kesalahan terbesar saya karena pernah membentak dan mencubit kakak. :'(

Dari situlah saya merasakan kecewa yang luar biasa, sampai menangis dan terus-terusan curhat ke suami. Bagaimana mungkin kakak bisa se-trauma dan se-marah itu ke saya sebagai ibunya? Bagaimana mungkin kakak tidak percaya dan tidak menerima pelukan hangat dari saya disaat dia tersakiti? Bagaimana mungkin???? Saya benar-benar kecewa, sedih, bahkan marah dengan diri saya sendiri yang tidak sadar dengan tindakan salah yang berlarut-larut saya lakukan.

Dari kesalahan itu, saya pelan-pelan memperbaikinya ketika adik mulai melayangkan tangannya ke kepala kakaknya. Meski prosesnya membuat saya berkali-kali marah dan kecewa terhadap diri saya sendiri, karena melihat respon kakak yang masih tidak ingin dipeluk, bahkan menghindar dan menyuruh saya pergi. Saat itu saya benar-benar berada di posisi yang berkali-kali tersakiti. Rasanya saya bukan lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman ketika anak membutuhkan perlindungan, dan bukan lagi tempat terbaik untuknya mengadu.

Alhamdulillah, meski kecewa berkali-kali saat memperbaiki kesalahan itu, akhirnya saya pun sampai disatu titik, dimana kakak kembali percaya dengan saya, dan kembali mau dipeluk dan dirangkul. Ah, rasanya seperti jatuh cinta kembali setelah patah hati berkali-kali.

Apa yang saya lakukan untuk memperbaikinya?

💙 Belajar anger management agar bisa mengendalikan emosi marah saat berada disituasi panas sibling rivalry.

💙 Selalu meningkatkan bonding ke kakak, selalu sounding ke kakak kalau mama sayang sekali dengan kakak, mama akan melindungi kakak dari siapa saja yang mau memukul kakak.

💙 Memvalidasi perasaan anak saat kondisinya sedang tenang (biasanya saat kami berdua sedang we time atau menjelang tidur).

💙 Konsisten berlaku adil kepada kakak dan adik, tidak menyuruh kakak untuk selalu mengalah ke adik dan begitupun sebaliknya, tetapi mengajarkan keduanya cara meminjam atau meminta izin yang baik jika ingin menggunakan barang yang sedang dimainkan kakak atau adiknya (ini masih PR ke adik, karena akhir-akhir ini adik masih bersikap memaksa dan merebut, kalau kakaknya insyaAllah sudah lebih paham).

Sekian pengakuan kesalahan yang saya lakukan. 

Bagi kalian yang sedang pusing dan bingung dengan adanya sibling rivalry, semoga kalian bisa mengambil pelajaran dari pengalaman saya. Cukup saya saja yang merasakan ini, kalian jangan ya.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KELABU

BISING