TRIAL SEKOLAH ANAKKU
Hari ini, pertama kalinya anakku mengikuti trial
sekolah secara offline, karena kami berencana tahun ini ingin
memasukkannya ke TK A. Dari empat sekolah yang kami survei di hari selasa
kemarin, sekolah ini satu-satunya yang membuka trial untuk calon siswa
tahun ajaran 2023/2024.
Tentu saja aku tidak ingin melewatkan kesempatan trial
ini. Kesempatan yang bisa aku gunakan untuk melihat antusias anakku mengikuti
pembelajaran, kualitas guru yang mengajar, dan juga menilai situasi sekolah
selama pembelajaran berlangsung.
Seperti yang sudah aku ceritakan ditulisan sebelumnya, aku
mendapat saran dari psikolog anak tempat anakku mengikuti kelas bermain, agar
mencari sekolah dengan mengutamakan pada perlakuan guru ke siswa, bagaimana
guru memandang setiap siswa itu unik. Sehingga nantinya akan memudahkan anakku
untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
Trial dimulai pada pukul 08.30 WIB, anakku disambut
sangat baik oleh kepala sekolah yang sekaligus berprofesi sebagai psikolog. Dari
segi pelayanan, sekolah ini tidak diragukan lagi. Apalagi ditunjang dari latar
belakang pendidikan pemimpin sekolah.
Selama trial berlangsung, aku menunggu di luar bersama
anak bungsuku. Orang tua dilarang melihat langsung selama anak trial bersama
siswa-siswa yang lain agar ia bisa fokus dan tidak mudah terdistraksi dengan kehadiran
orang tuanya.
Trial berlangsung cukup lama, karena menyesuaikan
dengan waktu belajar para siswa di sekolah tersebut. Aku yang menunggu di luar sambil
menemani anak bungsuku bermain, merasakan kekhawatiran. Apakah ia bisa mengikuti
instruksi dari gurunya? Apakah ia senang belajar bersama teman-teman yang baru
dikenalnya?
Dua jam berlalu, trial class pun selesai. Aku melihat
anakku keluar dari kelas dengan tersenyum senang. “Hai, mama!” sapanya berlari
mendekatiku. “Hai, nak! Sudah selesai belajarnya?” tanyaku menyambutnya. “Atiya
salim dulu ya sama mama!” pinta Miss Afifah. Anakku pun langsung mencium tanganku
dan kemudian menyapa adiknya dan mengajak bermain bersama.
Melihat ekpresi senang anakku, seketika kekhawatiranku
hilang. Sepertinya Atiya senang dengan sekolah ini, batinku. Miss Afifah
pun menceritakan koandisi anakku selama mengikuti trial class, beliau sangat
takjub dengan kognitif anakku yang sudah sangat matang untuk sekolah “Saat saya
memberikan lembar kerja ke Atiya, dia langsung paham cara mengerjakan tanpa arahan
dari saya. Begitu juga saat bermain balok, dia bisa membangun balok berdasarkan
imajinasinya, dan saat saya tanya bentuk-bentuk geometri dia sudah paham, ya,
ma!” jelas Miss Afifah sambal menyerahkan lembar kerja. Beliau akhirnya
penasaran dan bertanya padaku bagaimana caranya anakku bisa mengerjakan lembar
kerja dengan benar tanpa diarahkan.
Aku pun menceritakan ke beliau, kalau anakku sudah terbiasa
dengan aktivitas sekolah seperti fun learning sedari dia berusia 2,5
tahun. Mendengar hal itu, Miss Afifah tidak kaget jika anakku sudah matang secara
kognitif. Hanya saja, beliau memberi catatan pada motorik halus untuk lebih
sering distimulasi agar lebih siap saat memasuki fase belajar menulis (memegang
pensil).
Jujur, aku senang mendapat feedback yang positif dari
Miss Afifah. Beliau juga menjelaskan bahwa anak yang sudah terbiasa distimulasi
ibunya di rumah, saat memasuki lingkungan sekolah akan lebih mudah beradaptasi
dengan kondisi yang ada. Hasilnya pun akan lebih terlihat saat anak memasuki sekolah
dasar (SD), sebab berdasarkan pengalaman beliau anak-anak yang tidak terbiasa
diberi stimulasi, saat masuk SD mereka butuh waktu beradaptasi yang cukup lama.
Sehingga memang stimulasi diusia golden age sangatlah penting.
Aku yang mendengar penjelasan beliau sangat senang dan
bersyukur. Ternyata lelah, stres, frutasi yang pernah aku rasakan selama proses
pemberian stimulasi anakku memberikan hasil yang memuaskan. Sehingga memudahkan
anakku menyesuaikan diri dengan pembelajaran yang ada di sekolah.
Hasil trial hari ini, secara keseluruhan memberikan
gambaran yang sangat baik terhadap perkembangan anakku, sehingga membuatku
semakin mantap untuk menyekolahkannya di tahun ini.

Komentar
Posting Komentar