TRIAL SEKOLAH ANAKKU

 

(Sumber foto: https://www.pexels.com/id-id/foto/lukisan-anak-di-meja-putih-3662630/)

Hari ini, pertama kalinya anakku mengikuti trial sekolah secara offline, karena kami berencana tahun ini ingin memasukkannya ke TK A. Dari empat sekolah yang kami survei di hari selasa kemarin, sekolah ini satu-satunya yang membuka trial untuk calon siswa tahun ajaran 2023/2024.

Tentu saja aku tidak ingin melewatkan kesempatan trial ini. Kesempatan yang bisa aku gunakan untuk melihat antusias anakku mengikuti pembelajaran, kualitas guru yang mengajar, dan juga menilai situasi sekolah selama pembelajaran berlangsung.

Seperti yang sudah aku ceritakan ditulisan sebelumnya, aku mendapat saran dari psikolog anak tempat anakku mengikuti kelas bermain, agar mencari sekolah dengan mengutamakan pada perlakuan guru ke siswa, bagaimana guru memandang setiap siswa itu unik. Sehingga nantinya akan memudahkan anakku untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

Trial dimulai pada pukul 08.30 WIB, anakku disambut sangat baik oleh kepala sekolah yang sekaligus berprofesi sebagai psikolog. Dari segi pelayanan, sekolah ini tidak diragukan lagi. Apalagi ditunjang dari latar belakang pendidikan pemimpin sekolah.

Selama trial berlangsung, aku menunggu di luar bersama anak bungsuku. Orang tua dilarang melihat langsung selama anak trial bersama siswa-siswa yang lain agar ia bisa fokus dan tidak mudah terdistraksi dengan kehadiran orang tuanya.

Trial berlangsung cukup lama, karena menyesuaikan dengan waktu belajar para siswa di sekolah tersebut. Aku yang menunggu di luar sambil menemani anak bungsuku bermain, merasakan kekhawatiran. Apakah ia bisa mengikuti instruksi dari gurunya? Apakah ia senang belajar bersama teman-teman yang baru dikenalnya?

Dua jam berlalu, trial class pun selesai. Aku melihat anakku keluar dari kelas dengan tersenyum senang. “Hai, mama!” sapanya berlari mendekatiku. “Hai, nak! Sudah selesai belajarnya?” tanyaku menyambutnya. “Atiya salim dulu ya sama mama!” pinta Miss Afifah. Anakku pun langsung mencium tanganku dan kemudian menyapa adiknya dan mengajak bermain bersama.

Melihat ekpresi senang anakku, seketika kekhawatiranku hilang. Sepertinya Atiya senang dengan sekolah ini, batinku. Miss Afifah pun menceritakan koandisi anakku selama mengikuti trial class, beliau sangat takjub dengan kognitif anakku yang sudah sangat matang untuk sekolah “Saat saya memberikan lembar kerja ke Atiya, dia langsung paham cara mengerjakan tanpa arahan dari saya. Begitu juga saat bermain balok, dia bisa membangun balok berdasarkan imajinasinya, dan saat saya tanya bentuk-bentuk geometri dia sudah paham, ya, ma!” jelas Miss Afifah sambal menyerahkan lembar kerja. Beliau akhirnya penasaran dan bertanya padaku bagaimana caranya anakku bisa mengerjakan lembar kerja dengan benar tanpa diarahkan.   

Aku pun menceritakan ke beliau, kalau anakku sudah terbiasa dengan aktivitas sekolah seperti fun learning sedari dia berusia 2,5 tahun. Mendengar hal itu, Miss Afifah tidak kaget jika anakku sudah matang secara kognitif. Hanya saja, beliau memberi catatan pada motorik halus untuk lebih sering distimulasi agar lebih siap saat memasuki fase belajar menulis (memegang pensil).

Jujur, aku senang mendapat feedback yang positif dari Miss Afifah. Beliau juga menjelaskan bahwa anak yang sudah terbiasa distimulasi ibunya di rumah, saat memasuki lingkungan sekolah akan lebih mudah beradaptasi dengan kondisi yang ada. Hasilnya pun akan lebih terlihat saat anak memasuki sekolah dasar (SD), sebab berdasarkan pengalaman beliau anak-anak yang tidak terbiasa diberi stimulasi, saat masuk SD mereka butuh waktu beradaptasi yang cukup lama. Sehingga memang stimulasi diusia golden age sangatlah penting.

Aku yang mendengar penjelasan beliau sangat senang dan bersyukur. Ternyata lelah, stres, frutasi yang pernah aku rasakan selama proses pemberian stimulasi anakku memberikan hasil yang memuaskan. Sehingga memudahkan anakku menyesuaikan diri dengan pembelajaran yang ada di sekolah.

Hasil trial hari ini, secara keseluruhan memberikan gambaran yang sangat baik terhadap perkembangan anakku, sehingga membuatku semakin mantap untuk menyekolahkannya di tahun ini. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KELABU

BISING

Kesalahan Mengatasi Sibling Rivalry