TENTANG KEPEDULIAN

 

(Sumber foto: https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-menggendong-bayi-286625/)


Setiap fase kehidupan kita pasti akan menemui halangan dan rintangan, tidak terkecuali dalam mengasuh anak. Perlu kita sadari bahwa setiap hambatan yang kita temui pasti selalu mengandung hikmah yang sayangnya jarang kita sadari, sebab terlalu fokus mengeluhkan hal yang sudah terjadi.

Sudah banyak testimoni tentang mengasuh anak itu tidak mudah, sudah terlanjur tersebar asumsi mengasuh anak sepenuhnya dilakukan oleh seorang ibu, dan sudah banyak data di luar sana yang menunjukkan kenakalan remaja akibat pola asuh orang tuanya.

Pengalaman mengasuh anak yang penuh lika-liku sudah cukup sebagai bahan renungan bahwa proses ini butuh kesadaran penuh untuk menerima keterbatasan diri. Jika kita sudah berusaha sesuai dengan kapasitas diri, namun hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi. Maka inilah saat yang tepat untuk menyadari bahwa hidup bukan hanya sekadar pemenuhan ekspektasi belaka. Ada hal yang sering kita lupakan, apakah itu? Menerima setulus-tulusnya bahwa proses pengasuhan yang kita jalani bukan hanya perkara memenuhi target kebutuhan anak, namun juga tentang seberapa dalam kita mengenal diri sendiri.

Ketika mengasuh anak, tanpa disadari tabiat kita yang sesungguhnya akan terkuak dan muncul dipermukaan lebih sering. Mungkin selama ini kita melihat diri kita sebagai seorang yang penyabar dan lemah lembut, tetapi ternyata setelah hadirnya seorang anak sifat itu perlahan memudar. Setelah mempunyai anak, ternyata sebagian besar perilaku kita banyak dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, adanya luka pengasuhan yang malah menambah kewajiban untuk membasuhnya.

Sungguh pelik, kompleksitas dalam mengasuh anak dapat menghadirkan bayangan kelam masa lalu yang justru memengaruhi tingkat kualitas pengasuhan yang kita berikan.

Lantas, masihkah kita berdiam dan mengeluhkan hal yang memang benar seperti itulah faktanya? Masihkah kita terus-terusan menyalahkan diri sendiri? Sejenak merenunglah, sudahkah kita memeluk diri ini erat-erat? Sudahkah kita menjadi satu-satunya orang yang paling memahami kondisi diri ini?

Peduli terhadap diri sendiri sangat dibutuhkan dalam proses pengasuhan. Ketika lelah segera beristirahat, ketika tersulut marah segera mengambil jeda, ketika bosan dengan rutinitas sebagai ibu maka cari kegiatan yang disukai, ketika menemui kendala pengasuhan segera mencari ilmu, dan ketika merasa peran ini begitu berat, maka rutinkan bangun tengah malam untuk meminta pertolongan pada-Nya.

Hal ini dilakukan bukan hanya semata-mata demi kebaikan anak, tetapi juga kebaikan diri sendiri. Pengasuhan itu ibarat dua sisi mata uang, satu sisi upaya kita memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak, sedangkan satu sisinya lagi upaya kita mengenal dan menerima diri sendiri. Meski kedua sisinya berbeda, namun keduanya saling melengkapi agar tetap berharga.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KELABU

BISING

Kesalahan Mengatasi Sibling Rivalry