MENJADI ORANG TUA (BAGIAN 3)
Saat menjadi orang tua, ujian kesabaran terjadi bukan hanya saat mendapati perilaku menantang anak, tetapi juga saat anak sedang jatuh sakit.
Mengurus anak yang sedang sakit rupanya jauh lebih melelahkan, lelah fisik, mental, emosional menjadi satu. Saat itu, aku tak bisa melakukan pekerjaan yang lain selain di tempat tidur mengurus anak.
Suara tangisan dan rengekan anakku seolah membawaku ke pengalaman masa kecilku dahulu, di mana aku tidak dibiarkan untuk menangis menyelami perasaan sakit yang aku rasakan.
Pengalaman seolah itu mengetuk alam bawah sadarku untuk melakukan hal yang sama. Untungnya aku memiliki support system yang terbaik. Ya, dialah suamiku yang selalu sigap bergantian denganku.
Menjadi orang tua ternyata sangat melelahkan, perjuangannya begitu dramatis, makanya bayarnya sangat mahal yang tak mampu ditukar dengan kekayaan dunia. Aku pun tak yakin akankah aku pantas menerima imbalan syurga-Nya? Sebab aku belum merasa menjadi orang tua yang patut diteladani.
Jika para muda mudi di luar sana menyadari betapa sulitnya menjadi orang tua, mungkin tak akan ada kasus hamil di luar nikah. Sungguh, menjadi orang tua itu amatlah rumit, ganjarannya hanya ada dua syurga atau neraka. Duh, ko jauh banget sih mikirnya sampai ke syurga dan neraka segala. Ya, mengasuh anak itu bukan hanya perkara sukses di dunia saja melainkan juga di akhirat, makanya pola pikirnya harus sampai ke sana. Tidak melulu tentang kehidupan dunia semata.
Mengontrol emosi adalah hal tersulit selama menjalani peran ini, amarah yang menjadi santapan setan untuk menggelincirkan lisan adalah tantangan terberat dalam mengupayakan sabar dan syukur agar bisa berjalan beriringan.

Komentar
Posting Komentar