KHAWATIR

 

(Sumber foto: https://www.pexels.com/id-id/foto/foto-pria-bersandar-di-meja-kayu-3132388/)


Beberapa hari ini, aku merasa kewalahan menjalani rutinitas, pun ditambah segudang pemikiran yang memicu rasa khawatir yang berlebihan. Banyaknya hal yang sedang aku pikirkan tentang masa depan memengaruhi suasana hatiku, sehingga membuatku tenggelam dengan kekhawatiran akan sesuatu yang belum terjadi.

Di saat semangat belajar mendalami dunia menulis sedang berkobar, di saat itu pula aku merasa kewalahan dalam menjalani seluruh rutinitas dan tanggung jawabku sebagai seorang ibu secara berbarengan. Ya, aku akui ada hal-hal yang tidak perlu aku paksakan, berdamai dengan keadaan adalah hal yang harus aku lakukan.

Memikirkan sekolah untuk anakku, mencari kegiatan untuk meng-upgrade diri, serta bagaimana perjalanan karierku jika nanti anak-anakku sudah bersekolah. Apakah aku tetap menjadi ibu rumah tangga? Apakah akan ada kesempatan bagiku mewujudkan impianku menjadi seorang dosen?

Pikiranku pun dirasuki kekhawatiran akan masa depan yang sudah pasti akan terjadi. Seperti datangnya ajal, siapakah yang lebih dulu dipanggil menghadap Sang Pencipta? Aku atau suamiku? Bagaiamna masa depan anak-anakku jika suamiku sebagai tulang punggung keluarga ini dipanggil lebih dulu, sedang aku hanya berstatus sebagai seorang ibu rumah tangga. Aku terlalu mengkhawatirkan rezeki yang sudah menjadi urusan-Nya.

Di sisi lain, aku ingin mewujudkan keinginan ibuku agar bisa bekerja dan menjadi istri yang tidak hanya mengandalkan gaji suami. Apalagi gelar magister dibelakang namaku yang sayang jika tidak dimanfaatkan untuk bekerja. Sebagai seorang single parent, ibuku pernah mengingatkanku untuk tetap bekerja agar punya penghasilan sendiri. Jadi, jika sewaktu-waktu ditinggal suami lebih dulu, kondisi keuangan keluarga tidak mengalami kolaps “Kau lihatlah mama ini, walaupun ditinggal papa, mama tetap punya penghasilan untuk dipakai bayar sekolah dan kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Perkataan ibuku, akhir-akhir ini menguasai pikiranku yang akhirnya membuatku mencari lowongan pekerjaan sebagai penulis lepas. Saat ini, menjadi penulis lepaslah yang bisa aku kerjakan, karena waktunya yang fleksibel dan juga bisa dikerjakan hanya dari rumah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KELABU

BISING

Kesalahan Mengatasi Sibling Rivalry