IBU YANG BERSEDIH

 

(Sumber foto: https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-duduk-kesepian-murung-7929085/)

Menjadi seorang ibu itu sulit, ya. Kadang aku bisa merasakan senang dan sedih dalam satu waktu. Terkadang aku hanyut dalam kesedihan yang begitu mendalam tanpa tahu alasannya. Perasaan khawatir, ketidaksiapan, dan ketidaktahuan akan apa yang akan terjadi di masa depan membuatku tenggelam dalam pikiranku sendiri, bak benang kusut yang sulit terurai.

Apa yang terjadi dengan diriku? Akankah rasa sedih ini adalah wujud dari lelahnya diri ini? Lelah fisik, mental, emosional, dan sosial. Bahkan dari literatur yang kubaca terdapat jenis lelah yang sulit untuk dijelaskan, lelah yang dideskripsikan malas melakukan aktivitas seperti biasanya bahkan aktivitas sederhana, lelah yang disebut soul exhaustion. Apakah aku sedang mengalami soul exhaustion? Entahlah, yang kutahu lelah ini memaksaku tidak ingin melakukan apa-apa, hanya ingin duduk, diam, dan merenung, hingga tanpa sadar membuat air mataku berlinang.

Kebiasaan merasa lelah menjadi seorang ibu membuatku tak lagi bisa mengekspresikan kesedihan. Ingin rasanya mengumpat, menangis, dan berteriak sekencang-kencangnya. Namun, aku masih  memikirkan perasaan anak-anakku yang bisa jadi akan terluka jika aku salah mengekspresikan sedih ini. "Ya Allah sedramatis ini menjadi ibu?" Pantas saja Rasulullah menyebut ibumu, ibumu, ibumu, baru bapakmu. Ternyata, sesulit ini untuk mendapat ganjaran syurga-Mu.

Aku pernah sengaja masuk ke kamar mandi, membiarkan air keran mengalir agar tangisanku tak terdengar oleh orang lain. Pun pernah berpura-pura tidur di balik selimut agar anakku tak melihat tetesan air mataku. Sungguh, peran ini sangat menguras tenaga dan pikiranku.

Dari waktu ke waktu, ada saja tantangan pengasuhan yang kerap kali menguji kemampuanku. Entah berapa banyak buku parenting yang sudah kubaca, entah berapa kali aku mengikuti seminar dan kulwap parenting, entah berapa banyak akun parenting yang aku follow, dan entah berapa orang yang sudah kujadikan tempat bertanya seputar tumbuh kumbang anak. Tetapi, masih saja aku menemui jalan buntu yang membuatku frustasi.

Mulai dari proses pemberian ASI, MPASI (makanan pendamping ASI), menyapih, toilet training, hingga berbagai upaya pemberian stimulasi motorik, kognitif, bahasa, agama, sosial, dan emosional. Sungguh, tugas ini teramat kompleks. Bisakah aku lulus di setiap fase ini? bisakah aku melaluinya tanpa stres? Hmm.. Yang jelas peran ini membuatku belajar banyak hal.

Bohong rasanya jika aku tidak menikmati peran ini. Bohong rasanya jika aku tidak mensyukuri hadirnya anak dalam keluarga ini. Sebab kesedihan ini tidak ada hubungannya dengan rasa tak cukup. Justru aku amat sangat merasa cukup dikaruniai dua orang anak yang hanya berjarak setahun saja. Ya, aku melahirkan anak pertama di tahun 2019 dan kemudian melahirkan anak kedua di tahun 2020. Di saat orang lain sulit untuk mendapat keturunan, aku malah diberi kemudahan dalam dua tahun berturut-turut.

Saat menuliskan cerita ini, aku sedang merasakan kesedihan itu. Kesedihan yang aku tak tahu alasannya. Sampai malam ini, aku mencoba menenangkan diriku dengan memeluk kedua anakku, membisikkan rasa sayangku, salat dengan khusyuk, dan membaca Al-Qur’an dengan syahdu. Berharap kesedihan ini mendatangkan jiwa baru yang lebih bersyukur.

Saat menuliskan cerita ini, aku teringat ibuku di kampung halaman yang jauh di sana. Ah, iya sudah dua tahun rupanya aku tidak pulang menemuinya. Akankah aku bersedih karena sedang merindukannya? Ingin rasanya menangis dipangkuannya sambil berucap “Bu, jadi orang tua itu susah, ya.”

Kubayangkan perjuangan ibuku menjadi seorang single parent dari lima orang anaknya. Sebagai seorang anak yang menyaksikan langsung perjuangannya, kulihat ia selalu berusaha tegar meski sulit, tak ada suami sebagai tempat berbagi dan bercerita, dan tak ada bahu sebagai tempat bersandar. Sedang aku, masih memiliki suami yang setia menemaniku sampai saat ini. Suami yang ringan tangan membantu pekerjaan rumah, pekerja keras, bertanggung jawab, dan mampu mengayomi keluarga kecil kami.

Bersyukur, kesedihan ini mampu mengantarkanku pada sepertiga malam yang jarang sekali aku manfaatkan untuk bermunajat pada-Nya. Malam itu, aku begitu menikmati kesunyian yang mendatangkan kedamaian bagi jiwaku yang bersedih. Ternyata, aku butuh waktu untuk berduaan dengan-Nya, meluapkan segala keresahan dan kelelahan menjalani peran ini. Meminta pada-Nya agar selalu menguatkan pundakku, memohon ampun atas segala salah dan khilaf dalam mendidik, serta meminta-Nya agar selalu membimbingku dalam proses pengasuhan ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KELABU

BISING

Kesalahan Mengatasi Sibling Rivalry