IBU YANG BERSEDIH
Menjadi seorang ibu itu sulit, ya. Kadang aku bisa merasakan
senang dan sedih dalam satu waktu. Terkadang aku hanyut dalam kesedihan yang
begitu mendalam tanpa tahu alasannya. Perasaan khawatir, ketidaksiapan, dan
ketidaktahuan akan apa yang akan terjadi di masa depan membuatku tenggelam
dalam pikiranku sendiri, bak benang kusut yang sulit terurai.
Apa yang terjadi dengan diriku? Akankah rasa sedih ini adalah
wujud dari lelahnya diri ini? Lelah fisik, mental, emosional, dan sosial. Bahkan
dari literatur yang kubaca terdapat jenis lelah yang sulit untuk dijelaskan, lelah
yang dideskripsikan malas melakukan aktivitas seperti biasanya bahkan aktivitas
sederhana, lelah yang disebut soul exhaustion. Apakah
aku sedang mengalami soul exhaustion? Entahlah, yang kutahu lelah ini memaksaku
tidak ingin melakukan apa-apa, hanya ingin duduk, diam, dan merenung, hingga
tanpa sadar membuat air mataku berlinang.
Kebiasaan merasa lelah menjadi seorang ibu membuatku tak lagi bisa
mengekspresikan kesedihan. Ingin rasanya mengumpat, menangis, dan berteriak
sekencang-kencangnya. Namun, aku masih
memikirkan perasaan anak-anakku yang bisa jadi akan terluka jika aku
salah mengekspresikan sedih ini. "Ya Allah sedramatis ini menjadi
ibu?" Pantas saja Rasulullah menyebut ibumu, ibumu, ibumu, baru bapakmu.
Ternyata, sesulit ini untuk mendapat ganjaran syurga-Mu.
Aku pernah sengaja masuk ke kamar mandi, membiarkan air keran
mengalir agar tangisanku tak terdengar oleh orang lain. Pun pernah berpura-pura
tidur di balik selimut agar anakku tak melihat tetesan air mataku. Sungguh,
peran ini sangat menguras tenaga dan pikiranku.
Dari waktu ke waktu, ada saja tantangan pengasuhan yang kerap kali
menguji kemampuanku. Entah berapa banyak buku parenting yang sudah
kubaca, entah berapa kali aku mengikuti seminar dan kulwap parenting,
entah berapa banyak akun parenting yang aku follow, dan entah
berapa orang yang sudah kujadikan tempat bertanya seputar tumbuh kumbang anak. Tetapi,
masih saja aku menemui jalan buntu yang membuatku frustasi.
Mulai dari proses pemberian ASI, MPASI (makanan pendamping ASI),
menyapih, toilet training, hingga berbagai upaya pemberian stimulasi motorik,
kognitif, bahasa, agama, sosial, dan emosional. Sungguh, tugas ini teramat
kompleks. Bisakah aku lulus di setiap fase ini? bisakah aku melaluinya tanpa
stres? Hmm.. Yang jelas peran ini membuatku belajar banyak hal.
Bohong rasanya jika aku tidak menikmati peran ini. Bohong rasanya
jika aku tidak mensyukuri hadirnya anak dalam keluarga ini. Sebab kesedihan ini
tidak ada hubungannya dengan rasa tak cukup. Justru aku amat sangat merasa
cukup dikaruniai dua orang anak yang hanya berjarak setahun saja. Ya, aku
melahirkan anak pertama di tahun 2019 dan kemudian melahirkan anak kedua di
tahun 2020. Di saat orang lain sulit untuk mendapat keturunan, aku malah diberi
kemudahan dalam dua tahun berturut-turut.
Saat menuliskan cerita ini, aku sedang merasakan kesedihan itu. Kesedihan
yang aku tak tahu alasannya. Sampai malam ini, aku mencoba menenangkan diriku
dengan memeluk kedua anakku, membisikkan rasa sayangku, salat dengan khusyuk,
dan membaca Al-Qur’an dengan syahdu. Berharap kesedihan ini mendatangkan jiwa baru
yang lebih bersyukur.
Saat menuliskan cerita ini, aku teringat ibuku di kampung halaman
yang jauh di sana. Ah, iya sudah dua tahun rupanya aku tidak pulang
menemuinya. Akankah aku bersedih karena sedang merindukannya? Ingin rasanya menangis
dipangkuannya sambil berucap “Bu, jadi orang tua itu susah, ya.”
Kubayangkan perjuangan ibuku menjadi seorang single parent dari
lima orang anaknya. Sebagai seorang anak yang menyaksikan langsung
perjuangannya, kulihat ia selalu berusaha tegar meski sulit, tak ada suami
sebagai tempat berbagi dan bercerita, dan tak ada bahu sebagai tempat
bersandar. Sedang aku, masih memiliki suami yang setia menemaniku sampai saat
ini. Suami yang ringan tangan membantu pekerjaan rumah, pekerja keras, bertanggung
jawab, dan mampu mengayomi keluarga kecil kami.
Bersyukur, kesedihan ini mampu mengantarkanku pada sepertiga malam
yang jarang sekali aku manfaatkan untuk bermunajat pada-Nya. Malam itu, aku
begitu menikmati kesunyian yang mendatangkan kedamaian bagi jiwaku yang
bersedih. Ternyata, aku butuh waktu untuk berduaan dengan-Nya, meluapkan segala
keresahan dan kelelahan menjalani peran ini. Meminta pada-Nya agar selalu
menguatkan pundakku, memohon ampun atas segala salah dan khilaf dalam mendidik,
serta meminta-Nya agar selalu membimbingku dalam proses pengasuhan ini.

Komentar
Posting Komentar