BUKAN GURU BK YANG GALAK

(Sumber foto: https://www.pexels.com/id-id/foto/guru-kulit-hitam-yang-ceria-dengan-beragam-anak-sekolah-5905918/)

Apa yang ada di pikiran kalian jika mendengar kata guru BK (bimbingan dan konseling)? Galak? Atau malah sebaliknya? Sebagai seorang yang terlahir dari keluarga yang berprofesi sebagai guru, di mana Ibu adalah guru PAI (Pendidikan Agama Islam) sedangkan Ayah adalah guru BK. Aku menganggap guru BK bukanlah guru yang galak seperti apa yang diasumsikan banyak orang. Meski aku pernah mendengar sosok ayah di sekolah adalah guru BK yang ditakuti oleh siswa karena beliau identik dengan guru yang selalu membawa balok kayu saat melakukan razia tata tertib sekolah.

Ya, meskipun cara ayahku masih tergolong kolot, tetapi tetap saja aku tidak melihat sosok guru BK yang galak dalam diri ayahku. Apa karena beliau adalah ayahku? Sebab bagiku, ayah adalah orang tua yang selalu ada untukku. Ayah selalu mengantar jemput ke sekolah, menghadiri acara penerimaan rapor, mendukung kegiatanku di luar sekolah, dan selalu setia menemaniku ke mana saja. Hanya saja, citra guru BK dahulu lekat dengan julukan galak dan ditakuti oleh para siswa, karena balok kayu atau lidi yang selalu mereka bawa ke mana-mana. Sehingga menimbulkan kesan buruk bagi siapa saja yang melihat.

Di zaman dahulu hal seperti itu adalah lumrah, bahkan sekolah dijadikan satu-satunya tempat untuk membangun disiplin. Sehingga menganggap bahwa melakukan hukuman fisik adalah cara yang paling tepat untuk menanamkan efek jera bagi siswa yang melakukan kesalahan. Dahulu pun belum ada Undang-Undang tentang perlindungan anak di lingkungan sekolah, makanya para guru mudah saja mendisiplinkan dan mendidik siswa yang melanggar tata tertib sekolah.

Sebab perlakuan guru BK zaman dahulu itulah, hingga saat ini guru BK masih dianggap sebagai guru yang galak atau killer. Hal ini aku alami saat kembali mengajar sebagai guru BK di pertengahan tahun 2022. Saat aku memperkenalkan diri dihadapan para siswa sebagai guru BK, mereka terkejut, takut dan khawatir. Bahkan terdapat siswa yang berasumsi bahwa guru BK adalah guru yang suka menghukum siswa, dan siswa yang masuk ke dalam ruang BK dicap sebagai siswa bermasalah.

Aku tak menyangka citra guru BK di zaman yang serba canggih ini masih disamakan seperti guru BK zaman dulu. Saking asumsi tersebut begitu melekat di kehidupan masyarakat, sehingga penilaian tersebut turun temurun ke generasi sekarang. Mendengar testimoni yang kurang baik terhadap guru BK, aku merasa memiliki kewajiban untuk mengubah asumsi mereka. Guru BK yang sesungguhnya adalah sosok yang paling memahami kondisi siswa, lembut tuturnya, dan santun sikapnya. Selain itu, aku pun akan menunjukkan kinerja yang sesuai dengan tupoksi BK pada pihak sekolah.

Setelah berkenalan dengan para siswa di beberapa kelas, aku pun mulai menjalankan tugasku dengan memberikan layanan klasikal yang bertema bullying disalah satu kelas VII. Saat aku masuk ke dalam kelas, tak heran membuat para siswa kaget. Mengapa guru BK masuk ke kelas mereka? Apakah ada siswa yang bermasalah? Atau akan dilakukan razia? Ya, awal mula aku menginjakkan kaki di sekolah tersebut, aku langsung diberi tugas untuk merazia penampilan siswa yang tidak sesuai dengan tata tertib sekolah. Secara tidak langsung, tugas itu makin menambah citra buruk seorang guru BK.

Saat aku masuk ke dalam kelas memberi layanan klasikal, aku menjelaskan pada siswa bahwa tugas guru BK yang sesungguhnya adalah memberikan layanan yang berkaitan dengan aspek sosial, pribadi, belajar, dan karir. Tujuannya untuk memberi pemahaman terkait pembahasan yang belum pernah mereka ketahui, atau paling tidak mengubah pemahaman yang sekiranya tidak benar adanya. Bukan yang bertugas untuk razia barang-barang yang tidak diperbolehkan dibawa ke sekolah, karena sebenarnya merazia tidak masuk dalam tupoksi (tugas) guru BK.

Misiku di awal ingin mengubah citra guru BK tercapai di bulan pertama aku bekerja. Ya, tidak butuh waktu yang lama untuk mengubah julukan guru yang galak menjadi guru yang paling baik. Bahkan siswa-siswa yang pernah membuat masalah di sekolah, tidak segan untuk datang ke ruang BK meski hanya sekadar ingin makan bersama atau ingin didengarkan bercerita pengalaman hidupnya. Aku masih ingat salah seorang siswa datang ke ruanganku hanya ingin menyampaikan “Aku pikir ustadzah galak. Ternyata baik sekali, gaul pula!” katanya lalu beranjak pergi. Aku yang mendengarnya tersenyum senang. 

Ya, sekarang bukan zamannya lagi guru BK harus terlihat sangar agar ditakuti oleh siswa. Pun tidak dibenarkan menerapkan hukuman fisik dengan tujuan mendisiplinkan siswa. Saat di bangku kuliah, dosen selalu mengajarkan kami untuk menjadi guru BK yang bersahaja, ilmu yang diberikan pada kami pun mengedepankan sisi kemanusiaan seorang individu. Jika memang di lapangan terdapat guru BK yang bekerja tidak sesuai dengan kaidah-kaidah dalam ilmu bimbingan dan konseling, maka hal itu sudah berkaitan dengan kepribadiannya yang seharusnya tidak boleh dicampuradukkan dengan suatu disiplin ilmu.

Selama menjadi guru BK di sekolah tersebut, aku seperti diingatkan oleh siswa yang selalu antusias datang ke ruang BK, tentang bagaimana menjadi seorang guru yang tidak hanya sekadar mengajar saja, melainkan juga meningkatkan kualitas diri dengan menjadi guru yang mampu memberi contoh teladan bagi siswa, dan menjadi guru yang tidak membatasi diri untuk terbuka dengan siswa. Karakteristik siswa zaman sekarang lebih mudah didekati jika kita gurunya dapat menempatkan diri sebagai sosok pendengar yang baik. Sebab sesungguhnya masalah yang dihadapi siswa tak jarang bersumber dari rumah, kalau kita telusuri lebih dalam siswa yang membuat masalah di sekolah adalah korban dari pola asuh orang tuanya, yang justru akan membuat kita empati pada kondisi mereka.

 


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KELABU

BISING

Kesalahan Mengatasi Sibling Rivalry