BUKAN GURU BK YANG GALAK
Apa yang ada di pikiran kalian jika
mendengar kata guru BK (bimbingan dan konseling)? Galak? Atau malah sebaliknya?
Sebagai seorang yang terlahir dari keluarga yang berprofesi sebagai guru, di
mana Ibu adalah guru PAI (Pendidikan Agama Islam) sedangkan Ayah adalah guru
BK. Aku menganggap guru BK bukanlah guru yang galak seperti apa yang diasumsikan
banyak orang. Meski aku pernah mendengar sosok ayah di sekolah adalah guru
BK yang ditakuti oleh siswa karena beliau identik dengan guru yang selalu
membawa balok kayu saat melakukan razia tata tertib sekolah.
Ya, meskipun cara ayahku masih tergolong
kolot, tetapi tetap saja aku tidak melihat sosok guru BK yang galak dalam diri
ayahku. Apa karena beliau adalah ayahku? Sebab bagiku, ayah adalah orang tua
yang selalu ada untukku. Ayah selalu mengantar jemput ke sekolah, menghadiri
acara penerimaan rapor, mendukung kegiatanku di luar sekolah, dan selalu setia
menemaniku ke mana saja. Hanya saja, citra guru BK dahulu lekat dengan julukan
galak dan ditakuti oleh para siswa, karena balok kayu atau lidi yang selalu
mereka bawa ke mana-mana. Sehingga menimbulkan kesan buruk bagi siapa saja yang
melihat.
Di zaman dahulu hal seperti itu adalah
lumrah, bahkan sekolah dijadikan satu-satunya tempat untuk membangun disiplin.
Sehingga menganggap bahwa melakukan hukuman fisik adalah cara yang paling tepat
untuk menanamkan efek jera bagi siswa yang melakukan kesalahan. Dahulu pun
belum ada Undang-Undang tentang perlindungan anak di lingkungan sekolah,
makanya para guru mudah saja mendisiplinkan dan mendidik siswa yang melanggar
tata tertib sekolah.
Sebab perlakuan guru BK zaman dahulu
itulah, hingga saat ini guru BK masih dianggap sebagai guru yang galak atau killer.
Hal ini aku alami saat kembali mengajar sebagai guru BK di pertengahan tahun
2022. Saat aku memperkenalkan diri dihadapan para siswa sebagai guru BK, mereka
terkejut, takut dan khawatir. Bahkan terdapat siswa yang berasumsi bahwa guru BK
adalah guru yang suka menghukum siswa, dan siswa yang masuk ke dalam ruang BK
dicap sebagai siswa bermasalah.
Aku tak menyangka citra guru BK di zaman
yang serba canggih ini masih disamakan seperti guru BK zaman dulu. Saking asumsi
tersebut begitu melekat di kehidupan masyarakat, sehingga penilaian tersebut turun
temurun ke generasi sekarang. Mendengar testimoni yang kurang baik terhadap
guru BK, aku merasa memiliki kewajiban untuk mengubah asumsi mereka. Guru BK
yang sesungguhnya adalah sosok yang paling memahami kondisi siswa, lembut
tuturnya, dan santun sikapnya. Selain itu, aku pun akan menunjukkan kinerja
yang sesuai dengan tupoksi BK pada pihak sekolah.
Setelah berkenalan dengan para siswa di beberapa
kelas, aku pun mulai menjalankan tugasku dengan memberikan layanan klasikal
yang bertema bullying disalah satu kelas VII. Saat aku masuk ke dalam
kelas, tak heran membuat para siswa kaget. Mengapa guru BK masuk ke kelas
mereka? Apakah ada siswa yang bermasalah? Atau akan dilakukan razia? Ya, awal mula
aku menginjakkan kaki di sekolah tersebut, aku langsung diberi tugas untuk
merazia penampilan siswa yang tidak sesuai dengan tata tertib sekolah. Secara
tidak langsung, tugas itu makin menambah citra buruk seorang guru BK.
Saat aku masuk ke dalam kelas memberi layanan klasikal, aku menjelaskan pada siswa bahwa tugas guru BK yang sesungguhnya adalah memberikan layanan yang berkaitan dengan aspek sosial, pribadi, belajar, dan karir. Tujuannya untuk memberi pemahaman terkait pembahasan yang belum pernah mereka ketahui, atau paling tidak mengubah pemahaman yang sekiranya tidak benar adanya. Bukan yang bertugas untuk razia barang-barang yang tidak diperbolehkan dibawa ke sekolah, karena sebenarnya merazia tidak masuk dalam tupoksi (tugas) guru BK.
Misiku di awal ingin mengubah citra guru
BK tercapai di bulan pertama aku bekerja. Ya, tidak butuh waktu yang lama untuk mengubah
julukan guru yang galak menjadi guru yang paling baik. Bahkan siswa-siswa yang
pernah membuat masalah di sekolah, tidak segan untuk datang ke ruang BK meski
hanya sekadar ingin makan bersama atau ingin didengarkan bercerita pengalaman
hidupnya. Aku masih ingat salah seorang siswa datang ke ruanganku hanya ingin
menyampaikan “Aku pikir ustadzah galak. Ternyata baik sekali, gaul pula!”
katanya lalu beranjak pergi. Aku yang mendengarnya tersenyum senang.
Ya, sekarang bukan zamannya lagi guru BK harus
terlihat sangar agar ditakuti oleh siswa. Pun tidak dibenarkan menerapkan
hukuman fisik dengan tujuan mendisiplinkan siswa. Saat di bangku kuliah, dosen
selalu mengajarkan kami untuk menjadi guru BK yang bersahaja, ilmu yang
diberikan pada kami pun mengedepankan sisi kemanusiaan seorang individu. Jika
memang di lapangan terdapat guru BK yang bekerja tidak sesuai dengan
kaidah-kaidah dalam ilmu bimbingan dan konseling, maka hal itu sudah berkaitan
dengan kepribadiannya yang seharusnya tidak boleh dicampuradukkan dengan suatu
disiplin ilmu.
Selama menjadi guru BK di sekolah
tersebut, aku seperti diingatkan oleh siswa yang selalu antusias datang ke
ruang BK, tentang bagaimana menjadi seorang guru yang tidak hanya sekadar mengajar
saja, melainkan juga meningkatkan kualitas diri dengan menjadi guru yang mampu
memberi contoh teladan bagi siswa, dan menjadi guru yang tidak membatasi diri
untuk terbuka dengan siswa. Karakteristik siswa zaman sekarang lebih mudah
didekati jika kita gurunya dapat menempatkan diri sebagai sosok pendengar yang
baik. Sebab sesungguhnya masalah yang dihadapi siswa tak jarang bersumber dari
rumah, kalau kita telusuri lebih dalam siswa yang membuat masalah di sekolah
adalah korban dari pola asuh orang tuanya, yang justru akan membuat kita empati pada
kondisi mereka.

Komentar
Posting Komentar