BELAJAR DARI ANAK KECIL

(Sumber foto: https://www.pexels.com/id-id/foto/2-gadis-berjalan-di-jembatan-coklat-pada-siang-hari-50581/)

Jika waktu dapat diputar kembali, kuingin rasanya kembali pada masa kanak-kanak. Masa di mana pikiranku dipenuhi dengan keinginan untuk bermain, bermain, dan bermain tanpa memikirkan apa kata orang. Masa di mana tak memikirkan beban hidup, dan masa di mana hati tetap bersih dari benci.

Seiring berjalannya waktu, menjalani fase kehidupan baru sebagai orang dewasa nampaknya menimbulkan banyak kontroversi. Semakin dewasa, mengapa hidup serumit ini? mengapa banyak hal yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan sebagai seorang dewasa?

Di usiaku yang sudah memasuki kepala tiga, aku sudah memiliki dua orang anak. Hari-hariku sebagian besar kuhabiskan membersamai mereka. Dari mereka, aku banyak belajar bahwa sepelik apa pun hidup kita, tetaplah menjadi diri sendiri.

Anak kecil ketika dimarahi oleh orang tuanya, mereka tidak akan menjauh, memarahi balik, apalagi memukuli. Malah sebaliknya, meminta kita untuk merangkul dan memeluknya. Tak ada hujatan dan sumpah serapah yang keluar dari mulut mereka, yang ada hanya tangisan kesedihan meminta belas kasih dari kita.

Begitu cepat mereka melupakan rasa sakit dan kecewa yang baru saja mereka rasakan. Bahkan tanpa dimintai maaf, mereka telah memaafkan. “Ya, namanya saja anak kecil belum bisa berpikir panjang.” Statement yang membuatku berpikir, jika anak kecil belum bisa berpikir panjang dan mendalam, tetapi orang dewasa bisa melakukannya, lantas mengapa aku tidak seperti anakku yang begitu cepat mengubah sedih menjadi senang? Mengubah benci menjadi maaf?

Kalau boleh jujur, selama menjalani peran ini perasaanku lebih sensitif. Apalagi saat aku melahirkan anak keduaku yang usianya hanya terpaut dua belas bulan dengan sang kakak. Aku sangat menghindari perkataan orang lain terkait caraku melahirkan keduanya dengan proses persalinan caesar, takut di nilai tidak becus mengurus anak, takut dikatai ibu yang egois, dan berbagai kekhawatiran lainnya.

Bahkan, saat salah seorang temanku mengomentari repotnya mengurus anak pada unggahan foto anak-anakku di whatsapp stories pribadiku, aku membalasnya dengan jutek dan bertanya balik kapan hamil anak kedua? Pertanyaan yang mungkin memancing emosinya.

Kemudian, beberapa bulan yang lalu aku dibuat insecure dengan berat badan kedua anakku, jika melihat anak lain yang seumuran dengan anakku memiliki badan yang bongsor dan tinggi, tak jarang menimbulkan rasa iri dihatiku. Ya, iri karena aku sulit sekali menaikkan berat badan mereka. Sampai pada akhirnya aku bertemu dokter spesialis anak yang memberi resep vitamin untuk meningkatkan nafsu makannya.

Mungkin aku yang terlalu memikirkan apa kata orang, mencerna semua informasi yang malah mengintimidasi, mengikuti tren agar ikut diakui, hingga akhirnya membuatku lupa menjadi diri sendiri dan menerima keadaan.

Ternyata, sesensitif ini, ya perasaan seorang ibu. Apalagi jika ia memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan selama menjalani peran ini. Sebenarnya orang lain yang sekadar berkomentar adalah mereka yang perhatian dengan cara yang salah.

Selama menjalani peran ini, aku menyelami diriku sendiri, merasakan “Sakit ya, kalau dikomentari buruk oleh orang lain.” Hingga akhirnya pengalaman ini membuka mata dan hatiku lebar-lebar untuk tidak mengomentari kehidupan orang lain. Sebab paham sulitnya menjadi orang tua, paham setiap keluarga memiliki prinsip yang berbeda-beda dalam mendidik anak, paham setiap orang tua memiliki pengalaman masa lalu yang berbeda. Olehnya itu, aku tak ingin memberi komentar tentang kehidupan mereka apalagi gaya pengasuhan yang mereka terapkan.

Meski ada saatnya aku pun ikut geram dan marah ketika melihat berita di media sosial mengenai orang tua yang berbuat jahat pada anaknya. Tak habis pikir mengapa ada orang tua yang mendzalimi darah dagingnya sendiri. Apa yang ada dipikirannya saat itu? Seberat apa beban yang ia tanggung sehingga melampiaskan semuanya ke anak? Tanpa sadar dibalik kekesalanku pun muncul rasa empati yang membuatku tersadar untuk tidak melakukan hal yang sama. 


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KELABU

BISING

Kesalahan Mengatasi Sibling Rivalry