BELAJAR DARI ANAK KECIL
Jika waktu dapat diputar kembali, kuingin rasanya kembali pada
masa kanak-kanak. Masa di mana pikiranku dipenuhi dengan keinginan untuk
bermain, bermain, dan bermain tanpa memikirkan apa kata orang. Masa di mana tak
memikirkan beban hidup, dan masa di mana hati tetap bersih dari benci.
Seiring berjalannya waktu, menjalani fase kehidupan baru sebagai
orang dewasa nampaknya menimbulkan banyak kontroversi. Semakin dewasa, mengapa
hidup serumit ini? mengapa banyak hal yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan
sebagai seorang dewasa?
Di usiaku yang sudah memasuki kepala tiga, aku sudah memiliki dua
orang anak. Hari-hariku sebagian besar kuhabiskan membersamai mereka. Dari mereka,
aku banyak belajar bahwa sepelik apa pun hidup kita, tetaplah menjadi diri
sendiri.
Anak kecil ketika dimarahi oleh orang tuanya, mereka tidak akan
menjauh, memarahi balik, apalagi memukuli. Malah sebaliknya, meminta kita untuk
merangkul dan memeluknya. Tak ada hujatan dan sumpah serapah yang keluar dari mulut
mereka, yang ada hanya tangisan kesedihan meminta belas kasih dari kita.
Begitu cepat mereka melupakan rasa sakit dan kecewa yang baru saja
mereka rasakan. Bahkan tanpa dimintai maaf, mereka telah memaafkan. “Ya, namanya
saja anak kecil belum bisa berpikir panjang.” Statement yang membuatku
berpikir, jika anak kecil belum bisa berpikir panjang dan mendalam, tetapi
orang dewasa bisa melakukannya, lantas mengapa aku tidak seperti anakku yang
begitu cepat mengubah sedih menjadi senang? Mengubah benci menjadi maaf?
Kalau boleh jujur, selama menjalani peran ini perasaanku lebih sensitif.
Apalagi saat aku melahirkan anak keduaku yang usianya hanya terpaut dua belas
bulan dengan sang kakak. Aku sangat menghindari perkataan orang lain terkait caraku
melahirkan keduanya dengan proses persalinan caesar, takut di nilai
tidak becus mengurus anak, takut dikatai ibu yang egois, dan berbagai
kekhawatiran lainnya.
Bahkan, saat salah seorang temanku mengomentari repotnya mengurus anak
pada unggahan foto anak-anakku di whatsapp stories pribadiku, aku membalasnya
dengan jutek dan bertanya balik kapan hamil anak kedua? Pertanyaan yang mungkin
memancing emosinya.
Kemudian, beberapa bulan yang lalu aku dibuat insecure
dengan berat badan kedua anakku, jika melihat anak lain yang seumuran dengan anakku
memiliki badan yang bongsor dan tinggi, tak jarang menimbulkan rasa iri
dihatiku. Ya, iri karena aku sulit sekali menaikkan berat badan mereka. Sampai pada
akhirnya aku bertemu dokter spesialis anak yang memberi resep vitamin untuk meningkatkan
nafsu makannya.
Mungkin aku yang terlalu memikirkan apa kata orang, mencerna semua
informasi yang malah mengintimidasi, mengikuti tren agar ikut diakui, hingga akhirnya
membuatku lupa menjadi diri sendiri dan menerima keadaan.
Ternyata, sesensitif ini, ya perasaan seorang ibu. Apalagi jika ia
memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan selama menjalani peran ini. Sebenarnya
orang lain yang sekadar berkomentar adalah mereka yang perhatian dengan cara
yang salah.
Selama menjalani peran ini, aku menyelami diriku sendiri,
merasakan “Sakit ya, kalau dikomentari buruk oleh orang lain.” Hingga akhirnya
pengalaman ini membuka mata dan hatiku lebar-lebar untuk tidak mengomentari
kehidupan orang lain. Sebab paham sulitnya menjadi orang tua, paham setiap
keluarga memiliki prinsip yang berbeda-beda dalam mendidik anak, paham setiap
orang tua memiliki pengalaman masa lalu yang berbeda. Olehnya itu, aku tak
ingin memberi komentar tentang kehidupan mereka apalagi gaya pengasuhan yang
mereka terapkan.
Meski ada saatnya aku pun ikut geram dan marah ketika melihat berita
di media sosial mengenai orang tua yang berbuat jahat pada anaknya. Tak habis pikir
mengapa ada orang tua yang mendzalimi darah dagingnya sendiri. Apa yang ada
dipikirannya saat itu? Seberat apa beban yang ia tanggung sehingga melampiaskan
semuanya ke anak? Tanpa sadar dibalik kekesalanku pun muncul rasa empati yang
membuatku tersadar untuk tidak melakukan hal yang sama.

Komentar
Posting Komentar