TIDAK BUTUH VALIDASI
Perjalanan menjadi seorang ibu sering kali menemui tantangan
yang tak terduga. Peran ini juga membuat hati, pikiran, dan perasaan sering mengalami
pergolakan. Bahkan kita sendiri tak jarang tidak mengetahui ada apa dengan diri
kita? Mood yang mudah berubah-ubah diakibatkan intervensi diberbagai kondisi,
seperti saat anak sedang sulit makan, tubuh yang sedang mengalami kelelahan
fisik dan mental, atau sedang sibuk dengan urusan pekerjaan.
Saking tidak mudahnya menjalani peran sebagai seorang ibu, dan
juga tidak ada indikator keberhasilan suatu pengasuhan, terkadang membuat kita
menginginkan reward dari lingkungan. Sederhananya reward yang
berbentuk pengakuan dan validasi.
Sadar atau tidak, sebagai seorang ibu kita juga menginginkan
validasi dari orang lain, ingin diakui sebagai seorang ibu yang sukses. Di zaman
sekarang, mendapatkan validasi dari orang lain sangatlah mudah tak perlu keluar
rumah, tetapi hanya dengan memanfaatkan media sosial. Meski sebenarnya bukan
hanya seorang ibu saja yang menggunakan media sosial untuk mendapatkan validasi
dari orang lain, namun sebagian besar pengguna media sosial juga menginginkannya.
Berangkat dari pengalamanku sebagai seorang ibu yang aktif
membagikan moment stimulasi anakku di Instagram, aku tak bisa membohongi
diriku sendiri yang juga pernah sesekali merasakan ingin mendapatkan validasi
dari orang lain. Sebab keinginan itulah yang membuatku memutuskan untuk tidak
lagi aktif membagikan aktivitas stimulasi mereka, sekali aku merasakan sensasi
divalidasi, seterusnya membuatku ketagihan.
Akhirnya, aku merasa sensasi mendapatkan validasi dari orang
lain justru membuatku tidak mudah bersyukur atas pencapaian perkembangan yang
dialami anakku, proses pemberian stimulasi pun sudah tidak aku nikmati lagi. Sebab
aku sulit memisahkan niat hanya ingin berbagi manfaat dengan keinginan
mendapatkan validasi, sehingga aku memutuskan untuk tidak melanjutkan mengunggah
aktivitas stimulasi anakku di Instagram.
Setelah tidak lagi membagikan aktivitas bermain anakku, perasaanku
jauh lebih tenang. Ternyata menjadi seorang ibu akan lebih bahagia tanpa
validasi dari orang lain, karena tanpa validasi akan membuat diri lebih bersyukur
dan menerima kondisi yang ada. Ternyata, saat aku tidak membagikan moment
pengasuhan di Instagram, jiwaku seutuhnya bisa hadir bersama mereka. Sebab perhatianku
tidak lagi pada layar handphone yang lebih menyita perhatian.

Komentar
Posting Komentar