TIDAK BUTUH VALIDASI

 

(Sumber foto: https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-muda-yang-bahagia-memainkan-ukulele-untuk-putrinya-di-rumah-3975635/)

Perjalanan menjadi seorang ibu sering kali menemui tantangan yang tak terduga. Peran ini juga membuat hati, pikiran, dan perasaan sering mengalami pergolakan. Bahkan kita sendiri tak jarang tidak mengetahui ada apa dengan diri kita? Mood yang mudah berubah-ubah diakibatkan intervensi diberbagai kondisi, seperti saat anak sedang sulit makan, tubuh yang sedang mengalami kelelahan fisik dan mental, atau sedang sibuk dengan urusan pekerjaan.  

Saking tidak mudahnya menjalani peran sebagai seorang ibu, dan juga tidak ada indikator keberhasilan suatu pengasuhan, terkadang membuat kita menginginkan reward dari lingkungan. Sederhananya reward yang berbentuk pengakuan dan validasi.

Sadar atau tidak, sebagai seorang ibu kita juga menginginkan validasi dari orang lain, ingin diakui sebagai seorang ibu yang sukses. Di zaman sekarang, mendapatkan validasi dari orang lain sangatlah mudah tak perlu keluar rumah, tetapi hanya dengan memanfaatkan media sosial. Meski sebenarnya bukan hanya seorang ibu saja yang menggunakan media sosial untuk mendapatkan validasi dari orang lain, namun sebagian besar pengguna media sosial juga menginginkannya.

Berangkat dari pengalamanku sebagai seorang ibu yang aktif membagikan moment stimulasi anakku di Instagram, aku tak bisa membohongi diriku sendiri yang juga pernah sesekali merasakan ingin mendapatkan validasi dari orang lain. Sebab keinginan itulah yang membuatku memutuskan untuk tidak lagi aktif membagikan aktivitas stimulasi mereka, sekali aku merasakan sensasi divalidasi, seterusnya membuatku ketagihan.

Akhirnya, aku merasa sensasi mendapatkan validasi dari orang lain justru membuatku tidak mudah bersyukur atas pencapaian perkembangan yang dialami anakku, proses pemberian stimulasi pun sudah tidak aku nikmati lagi. Sebab aku sulit memisahkan niat hanya ingin berbagi manfaat dengan keinginan mendapatkan validasi, sehingga aku memutuskan untuk tidak melanjutkan mengunggah aktivitas stimulasi anakku di Instagram.

Setelah tidak lagi membagikan aktivitas bermain anakku, perasaanku jauh lebih tenang. Ternyata menjadi seorang ibu akan lebih bahagia tanpa validasi dari orang lain, karena tanpa validasi akan membuat diri lebih bersyukur dan menerima kondisi yang ada. Ternyata, saat aku tidak membagikan moment pengasuhan di Instagram, jiwaku seutuhnya bisa hadir bersama mereka. Sebab perhatianku tidak lagi pada layar handphone yang lebih menyita perhatian.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KELABU

BISING

Kesalahan Mengatasi Sibling Rivalry