TAK MASALAH TETAP PERFEKSIONIS
(Sumber foto: https://www.pexels.com/id-id/foto/terbakar-habis-lelah-pekerja-atas-6837649/)
Tanggung jawab yang dijalani oleh seorang ibu tak jarang
membuat kita tertekan. Apalagi telah beredar asumsi bahwa mengasuh anak
utamanya dilakukan oleh seorang ibu. Asumsi tersebut membentuk idelisme dalam
masyarakat mengenai peran ibu yang sempurna. Penilaian akan kesempurnaan
tersebut membuat kita takut akan hukuman sosial ketika merasa gagal memenuhi
standar pengasuhan yang tinggi. Hal tersebut akhirnya memberi kontribusi dalam
meningkatkan stres pengasuhan. Di tambah lagi setiap orang tua memiliki standar
perfeksionisnya masing-masing.
Dalam sebuah studi mengatakan bahwa salah satu faktor risiko
parental burnout adalah perfeksionisme yang dimiliki orang tua. Pada akhirnya
faktor-faktor itulah yang membuat kita sulit untuk menerima kekurangan diri
sendiri, merasa tidak cukup dengan upaya-upaya yang sudah kita lakukan sebagai
seorang ibu. Padahal sebagai seorang manusia, sudah pasti tidak akan mencapai
kesempurnaan yang sesuai dengan ekspektasi kita.
Pada dasarnya kita masih bisa menggunakan kata perfeksionis sebagai standar untuk menilai suatu pencapaian. Hanya saja setelah mempunyai anak, sudah seharusnya kita menurunkan standar perfeksionis yang kita punya. Lantas, apa bedanya jika perfeksionis masih melekat di diri kita? Perbedaannya ada pada standar yang digunakan. Tak masalah tetap perfeksionis, hanya saja standarnya yang harus diturunkan. Jadi, hakikat perfeksionis yang dimaksud adalah standar yang digunakan. Sehingga kesempurnaan yang ingin dicapai pun akan berbeda.
Di lansir dari Glints, sikap perfeksionis sebenarnya bukanlah
sebuah masalah untuk dimiliki yang menjadi masalah ketika kita tidak mampu
mengelola perfeksionis itu, sehingga mengganggu rutinitas kita
sehari-hari. Oleh sebab itu, jika masih ingin tetap perfeksionis maka turunkan
standarnya. Sebagai contoh, menurunkan standar rumah rapi dan bersih setelah
mempunyai anak. Sebab realitasnya setelah mempunyai anak, akan sulit mempertahankan
rumah yang bersih dan rapi. Sehingga konsep ini pun berkaitan dengan menerima
realitas.
Sadar bahwa tugas seorang ibu sangat kompleks, maka tidak
akan cukup jika kita hanya mengandalkan diri sendiri. Mintalah bantuan dari
anggota keluarga lainnya, jika memungkinkan menyewa pengasuh dan asisten rumah
tangga untuk membantu urusan domestik. Jika selama memenuhi tumbuh kembang anak
kita mengalami kendala, maka jangan ragu untuk meminta bantuan dari ahlinya,
seperti psikolog dan dokter anak.

Komentar
Posting Komentar