MENCARI SEKOLAH UNTUK ANAKKU
Bulan Januari aku mendaftarkan anak sulungku di kelas bermain yang dilaksanakan selama empat kali pertemuan, mengikutkan anakku dalam kelas tersebut dengan pertimbangan usianya yang sudah memasuki 4 tahun, dan sudah waktunya untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya. Selain itu, aku pun sudah jarang melakukan kegiatan structure play bersamanya, kegiatan di kelas bermain akan membantu menstimulasi aspek-aspek perkembangannya.
Pertemuan pertama di kelas bermain, aku tidak begitu kaget dengan sikap anakku yang masih malu untuk berbaur dengan teman-temannya. Bahkan dia pun sempat melakukan penolakan pada seorang guru yang mencoba mendekatinya. Ketika sang guru berusaha mendekatkan diri padanya, dia selalu menghindar bahkan berlari menjauh.
Sebagai seorang ibu yang menyaksikan langsung sikap
anakku, sempat khawatir apabila anakku selalu melakukan penolakan,
maka akan sulit untuk dia menerima stimulasi dari kegiatan tersebut.
Alhamdulillah, kekhawatiranku terpatahkan dipertemuan kedua.
Anakku mulai terbuka dengan guru-guru yang ada, dia tidak sungkan untuk
menjawab pertanyaan para guru, bahkan menerima ajakan salah seorang guru untuk
bermain bersamanya.
Selama empat kali pertemuan tersebut, aku perhatikan dia
tidak selamanya terbuka dan menerima kegiatan belajar yang ada. Pada
kondisi-kondisi tertentu dia akan melakukan penolakan, entah pada gurunya atau
pada kegiatan yang menurutnya sulit untuk dia lakukan.
Berdasarkan pengamatan itulah aku berkesimpulan untuk memasukkan
anakku sekolah TK pada tahun ini, agar kemampuan sosio-emosionalnya
terstimulasi dengan optimal. Benar saja, dua minggu kemudian hasil assessment
perkembangan anakku selama mengikuti kelas bermain menunjukkan bahwa aspek
sosio-emosional anakku masih butuh stimulasi yang lebih sering.
Setelah mendapatkan hasil assessment, keesokan harinya
aku mendapat kesempatan untuk melakukan konsultasi dengan psikolog anak.
Konsultasi tersebut merupakan fasilitas dari kelas bermain. Kata psikolog anak, secara
garis besar tidak ada masalah dengan perkembangan anakku. Psikolog tersebut
sempat bertanya kapan rencana anakku di sekolahkan? Aku yang butuh penguatan
dari beliau balik bertanya “Melihat hasil assessment perkembangan Atiya
yang masih harus mendapatkan stimulasi aspek sosio-emosional, apakah tahun ini
adalah waktu yang tepat untuk Atiya masuk sekolah bu?” tanyaku penasaran.
“Iya benar tahun ini sebaiknya Atiya sudah harus masuk
sekolah, karena aspek sosio-emosionalnya akan lebih terstimulasi di lingkungan
sekolah. Di sekolah dia akan belajar memahami dan menaati peraturan, rutinitas
yang dibangun di lingkungan sekolah juga akan membangun kemandiriannya. Kalau
di rumah stimulasi aspek sosio-emosional terbatas, karena biasanya aturan di
dalam rumah tidak tetap (kadang berubah-ubah tergantung kondisi dalam rumah) tidak seperti aturan yang ada di
sekolah,” jelas beliau panjang lebar.
Beliau juga menyarankan saat mencari sekolah untuk Atiya sebaiknya memperhatikan karakteristik guru yang ada di sekolah. Guru di sekolah tersebut harus memandang setiap anak itu unik, agar dapat memperlakukan anak sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Dengan alasan Atiya adalah anak yang butuh waktu menerima lingkungan baru. Jika guru yang menghadapi sikap Atiya tidak sabar, kemungkinan Atiya akan menutup diri dan menolak untuk belajar.
Alhamdulillah, jawaban dari beliau semakin membuatku yakin
untuk menyekolahkan Atiya di tahun ini. Poin yang paling aku garis bawahi adalah
mencari sekolah yang mengutamakan karakteristik gurunya. Aku yang memiliki
sedikit pengalaman di dunia pendidikan sudah bisa memprediksi model sekolah
seperti apa yang memenuhi kriteria tersebut. Kemungkinan sekolah yang
menerapkan metode pembelajaran sentra, montessori, dan STEAM. Rata-rata
sekolah yang memiliki metode pembelajaran tersebut memiliki biaya yang tidak
murah, para guru juga memiliki SOP khusus yang sudah ditetapkan oleh sekolah.
Sejauh ini aku sudah berdiskusi dengan beberapa teman yang
sudah berpengalaman hunting sekolah, pun sudah menentukan beberapa
sekolah yang akan aku survey nantinya.
Semoga kami bisa menemukan sekolah yang tepat, dan sesuai budget
yang kami punya.

Komentar
Posting Komentar