MELUPAKAN PERAN SEBAGAI ISTRI
Saat mendapat gelar sebagai seorang ibu, kehidupan seorang
wanita akan banyak mengalami perubahan. Kita akan disibukkan dengan peran baru
yang menyita waktu. Fokus kita beralih pada anggota keluarga baru yang bertubuh
kecil dan mungil. Saking menikmati peran sebagai ibu, kita terkadang lupa
dengan peran sebagai istri. Jangankan memikirkan suami, memikirkan diri sendiri
saja tidak.
Saat resmi menyandang gelar ibu, kegiatan sehari-hariku
tidak terlepas dari memenuhi kebutuhan anakku. Kekhawatiran dan kecemasan yang
aku rasakan tidak pernah luput dari tanggung jawabku dalam memenuhi kebutuhan
tumbuh kembang anakku.
Hadirnya seorang anak tidak hanya memengaruhi fisik dan
mentalku, melainkan juga pada hubungan dengan suamiku. Sebab disibukkan dengan
tugas sebagai seorang ibu, tak jarang membuatku lupa memenuhi kewajibanku
sebagai seorang istri. Aku pun mengalami perubahan mood yang lebih
sering saat menjalani peran ini.
Saat aku merasa kelelahan, tak jarang membuat moodku
kacau. Akibatnya membuatku tidak segan-segan mengeluarkan celetukan menohok
pada suamiku. Hal itu aku lakukan semata-mata hanya ingin suamiku paham akan
sinyal kelelahan yang aku rasakan. Jika ditanya mengapa tidak diberitahu dengan
cara yang baik? Entah mengapa saat berada dikondisi yang membuatku sulit mengontrol
amarahku, aku pun akan sulit mengutarakan keinginanku dengan cara yang baik. Sebab
emosi negatif yang aku rasakan terlanjur menguasai diri. Para ibu di luar sana
pasti paham jika berada dikondisiku.
Aku sangat bersyukur suamiku bukanlah tipe laki-laki yang
mudah marah atau kembali membalas dengan celetukan yang lebih menampar. Tak
bisa kubayangkan jika ia tipe lelaki yang temperamen dan sumbu pendek, hubungan
kami pasti makin hari makin tidak sehat.
Beberapa hari yang lalu, aku melihat postingan Instagram di
akun @tentanganak. dr. Mesty selaku founder @tentanganak mengatakan
bahwa jika dahulu faktor yang memengaruhi sosio-emosional anak adalah hubungan
orang tua dan anak, namun penelitian baru-baru ini (2022) menemukan bahwa
faktor yang memengaruhi sosio-emosional anak adalah hubungan sosio-emosional
orang tua. Artinya, hubungan yang tidak sehat antara suami dan istri memberi
sumbangsi yang besar terhadap buruknya perkembangan sosio-emosional anak.
Postingan tersebut membuatku penasaran untuk mencari jurnal terkait.
Dari hasil pencarian tersebut, aku menemukan sebuah jurnal tentang faktor
keluarga terkait dengan Oppositional Defiant Disorder (ODD).
Oppositional Defiant Disorder (ODD) adalah gangguan
perilaku yang ditandai dengan emosi yang labil, mudah marah dan tersinggung,
dan berperilaku menantang. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ODD biasanya
berasal dari lingkungan keluarga yang maladaptif, atau berada di dalam
lingkungan yang tidak terpelihara. ODD berkaitan dengan perkembangan
sosio-emosional seorang anak atau remaja, di mana faktor utama yang memengaruhi
ODD adalah kualitas hubungan orang tua (suami dan istri).
Membaca jurnal tersebut membuatku merefleksikan diri,
lingkungan seperti apa yang sudah tercipta di dalam rumah? Bagaimana hubungan
emosional antara aku dan suami? Gaya komunikasi seperti apa yang selama ini aku
gunakan? Pertanyan-pertanyaan itu
membuatku merenung, betapa hubungan yang sehat sangat dibutuhkan untuk memenuhi
perkembangan anak-anakku. Di mana selama ini, dalam kondisi tertentu aku sulit
mengendalikan egoku. Sehingga berakibat buruk pada hubungan emosional di antara
kami. Suasana rumah menjadi tidak nyaman, pun memengaruhi mood
anak-anak.
Merasa suasana itu membuat sangat tidak nyaman bagi semua
anggota keluarga, kami pun mengambil pelajaran agar selalu terbuka satu sama
lain. Jika ada perasaan yang mengganjal dan membuat tidak nyaman, artinya harus
segera didiskusikan. Pun keresahan sekecil apapun itu juga harus diutarakan
agar tidak menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Dalam meningkatan
kualitas hubungan suami-istri, kami pun sesekali menghabiskan waktu berdua dengan
menonton film atau serial di platform digital.

Komentar
Posting Komentar