ADA APA DENGAN REMAJA KITA?
Masa remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak, perbedaan
tuntutan antara masa kanak-kanak dan remaja seringkali membuat para remaja
mengalami tekanan yang menimbulkan perasaan insecure dan tidak percaya diri.
Sebagai seorang yang memiliki pengalaman bekerja sebagai guru
BK, penyebab masalah yang sering terjadi di sekolah rata-rata berasal dari lingkungan
keluarga. Seperti trauma masa kecil yang
belum tuntas, pola asuh otoriter, adanya hukuman fisik, hingga orang tua yang
terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya
ke pihak sekolah untuk mengubah perilaku si anak. Apalagi orang tua menganggap
sudah membayar sekolah dengan mahal, harapannya mendapatkan output yang
sesuai dengan harga yang dikeluarkan.
Faktor-faktor penyebab itulah yang menimbulkan
ketidaknyamanan selama berada di rumah dan senantiasa menutup diri. Adanya pengalaman
buruk akibat perlakukan orang tua menimbulkan trust issue yang
mengakibatkan remaja memilih untuk menutup diri atau sebaliknya melakukan
pembangkangan. Sehingga bukan tanpa alasan mengapa terdapat siswa membuat masalah
di sekolah.
Remaja butuh tempat untuk mengekspresikan diri dan
perasaannya. Jika di rumah mereka tidak diberi ruang dan kesempatan, maka mereka
akan mencari tempat untuk berekspresi. Entah di lingkungan pergaulannya atau di
media sosial.
Banyaknya kasus yang dialami para remaja yang viral di media
sosial adalah bukti bahwa mereka butuh tempat untuk berekspresi dan mencari
perhatian dari orang lain. Karena mereka merasa tidak mendapat perhatian dan
tidak merasa cukup akan kasih sayang orang tuanya, makanya mereka menjadikan
media sosial sebagai tempat untuk mendapatkan pengakuan dan validasi oleh orang
lain.
Berbahaya jika para remaja kita mencari perhatian selain di
lingkungan keluarga, apalagi di media sosial. Akan sulit untuk mendeteksi
anak-anak kita jika mereka menjadikan media sosial sebagai pelarian. Berdasarkan
pengalaman aku selama menjadi guru BK ternyata terdapat siswa yang memiliki second
account di media sosial, dengan adanya second account inilah yang akan
menyulitkan para orang tua untuk mengetahui aktivitas anaknya di media sosial. Pergaulan
mereka semakin luas yang membuat kita akan sulit untuk mengontrol.
Makanya penting untuk kita sebagai orang tua menanamkan
nilai-nilai kehidupan sejak dini, terutama memenuhi tangki cintanya dengan memupuk
perasaan kasih dan sayang. Sehingga Ketika anak beranjak dewasa, dia tidak akan
mencari perhatian di tempat lain. Sebaliknya selalu menjadikan kita sebagai
tempat ternyaman untuk bercerita meski pengalaman yang tidak menyenangkan
sekalipun.
Pada intinya remaja kita membutuhkan sosok seseorang yang
mau mendengar dan menerima kondisi mereka apa adanya, tanpa harus memasang
ekspektasi yang tinggi dan banyak menuntut. Perlakukanlah remaja kita sebagai
mana kita dulu diposisi sebagai seorang remaja.
Dulu saat mereka masih kecil, mereka selalu antusias pulang
ke rumah menceritakan pengalamannya selama bermain. Tetapi, mengapa saat
sudah memasuki masa remaja kebiasaan itu tidak terulang lagi? Apa karena atmosfer
dalam rumah yang tak lagi sama?

Komentar
Posting Komentar