4 Tips Mengurangi Screen Time Pada Anak

Generasi alpha yaitu anak yang lahir ditahun 2010 ke atas merupakan generasi yang lahir bersamaan dengan kecanggihan teknologi digital, sehingga tak bisa dipungkiri anak generasi alpha akan tumbuh bersama dengan teknologi digital, yang erat kaitannya dengan penggunaan gadget. Oleh sebab itu, penggunaan gadget pun akan sulit dhindari. Tetapi, lajunya perkembangan teknologi digital juga sama dengan laju perkembangan ilmu parenting, sehingga para orang tua millenial yang melahirkan generasi alpha sudah sadar akan bahaya penggunaan gadget bila tidak dibatasi. 

(Sumber foto: https://www.pexels.com/photo/kids-playing-tablet-while-sitting-on-the-wooden-floor-8501723/)

Ya, screen time adalah waktu yang diberikan pada anak untuk menatap layar (screen) pada rentang waktu tertentu. Kebanyakan anak menggunakan kesempatan ini untuk menonton video, menonton film, bermain game, atau membaca buku digital. Tetapi perlu diperhatikan untuk lama penggunaan gadget bagi anak. Banyak yang beranggapan bahwa paparan gadget atau yang dikenal dengan screen time pada anak khususnya anak balita membuat perkembangan bicaranya melambat. Ternyata anggapan tersebut diamini oleh sebuah penelitian di Amerika Serikat yang menyatakan bahwa screen time berlebihan pada anak dapat menyebabkan ia mengalami speech delay (Generos, 2022). 

Sebagai seorang ibu yang memiliki anak yang berusia 3 tahun dan 2 tahun, menyadari akan manfaat penggunaan gadget sekaligus bahayanya jika tidak dibatasi. Pernah dalam suatu kondisi, saya memberi waktu yang lebih untuk anak saya screen time dengan tujuan agar saya bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tanpa gangguan. Tetapi sayangnya setelah saya meminta mereka menyudahi tontonannya, kedua anak saya malah mengalami tantrum. Tidak hanya tantrum saja, tetapi juga meminta screen time lebih lama dengan tontonan yang serupa keesokan harinya. 

Berbicara tentang tantrum, tantrum akan terjadi pada anak usia 1–3 tahun dan akan berhenti sampai pada usia 4 tahun yang merupakan fase normal. Tapi jika tantrum pada anak yang usianya lebih besar yaitu 4 tahun ke atas akan lebih sulit penanganannya. Faktor penyebabnya juga beragam, bisa karena faktor idiophatic, bisa karena lingkungan dan juga genetik atau faktor pola asuh, dan sebagian juga ada yang mengatakan bahwa itu adalah akibat dipengaruhi oleh gadget (Generos, 2022).

Artinya, kondisi tersebut membuat kita para orang tua harus sadar dan peduli akan pentingnya membatasi penggunaan gadget pada anak. Kondisi yang anak saya alami di atas, tentu saja merupakan risiko yang harus saya terima, dan harus berupaya kembali pada rutinitas sebelumnya dimana screen time hanya dilakukan pada waktu tertentu saja.  

Berikut 4 aktivitas yang rutin saya lakukan untuk memenuhi tugas perkembangan anak serta  mengurangi screen time: 

1. Fun Learning

(Dokumentasi Pribadi)

Fun learning adalah aktivitas belajar yang menyenangkan karena dikemas dalam bentuk permainan. Mengapa permainan? Karena aktivitas bermain melekat dengan kehidupan sehari-hari anak. Fun learning termasuk ke dalam rutinitas structure play kami di rumah yang berlangsung kurang lebih 10-30 menit dalam sehari. Structure play adalah permainan terstruktur yang dirancang berdasarkan tugas perkembangan anak sesuai dengan usianya. Sehinga bentuk-bentuk permainan yang diberikan merujuk pada indikator-indikator perkembangan anak. Ide permainan biasanya saya dapatkan di media sosial, website parenting, atau dibeberapa aplikasi parenting

2. Membaca Buku

(Dokumentsai Pribadi)

Kita tahu sendiri bahwa membacakan buku untuk anak memiliki segudang manfaat. Diantaranya menambah kosa kata baru, meningkatkan kemampuan berbicara, menstimulasi kemampuan kognitif, keagamaan, sosial dan emosional anak, mengembangkan konsentrasi dan daya imajinasi anak, mengembangkan inisiatif anak, membangun bonding orang tua dan anak, dan mengurangi screen time. 

Read Aloud atau membaca nyaring adalah rutinitas keseharian yang wajib ada setiap harinya di keluarga kami. Dalam sehari, biasanya saya membacakan buku untuk anak-anak minimal 10-15 menit. Akan tetapi, karena anak-anak sudah terbiasa dengan rutinitas membaca buku, maka sehari 10-15 menit saja tidak cukup untuk mereka asik dengan bukunya. Durasi read aloud pun kian hari kian bertambah, disebabkan keingintahuan anak akan isi buku yang menimbulkan banyak pertanyaan. Sejauh ini, manfaatnya sudah terlihat di anak saya, diantaranya mengalami peningkatan perkembangan bahasa, memiliki inisiatif membaca buku sendiri, atau meminta untuk dibacakan oleh saya atau ayahnya. Sehingga terbukti dengan menyediakan fasilitas buku di rumah serta rutin read aloud, melatih anak untuk terbiasa memilih membaca buku dibanding screen time.

3. Bermain di halaman rumah

(Dokumentasi Pribadi)

Biasanya pada sore hari, saya memberikan anak kesempatan bermain di halaman rumah. Dengan bermain di halaman rumah, anak belajar mengeksplorasi benda-benda yang ada diluar rumah, selain itu mengajarkan anak untuk bersosialisasi dengan tetangga. Sebab pada usia 2-3 tahun anak memiliki tugas perkembangan pada indikator mulai menunjukkan senang bermain dengan teman. Dengan begitu membantu anak untuk memenuhi tugas perkembangan sosialnya. 

4. Berkunjung ke tempat wisata

(Dokumentasi Pribadi)

Mengurangi screen time pada anak, artinya sama dengan menambah aktivitas anak. Ketika aktivitas anak bertambah, maka orang tua harus menyediakan waktu tambahan bersama anak. Jika dalam sehari anak diajak berwisata, maka jatah waktu untuk screen time nya pun berkurang bahkan tidak ada screen time sama sekali, karena biasanya setelah habis berwisata, anak merasa lelah dan tidur lebih cepat dari biasanya. Oleh sebab itu, mengajak anak berjalan-jalan ke tempat wisata bisa dilakukan. Manfaatnya pun banyak, seperti ke kebun binatang. Anak akan melihat wujud nyata dari hewan yang hanya mereka lihat di TV, buku, atau mainan animal figure

Kunci dari mengurangi screen time pada anak adalah dengan membuat jadwal rutinitas anak sehari-hari, mulai dari bangun pagi hingga tidur di malam hari. Membuat jadwal rutinitas anak dapat dilakukan sebelum usia 2 tahun. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan anak akan keteraturan, sebab anak usia balita menyukai keteraturan dalam menjalani rutinitas sehari-sehari. Bila terjadi rutinitas yang berbeda dari biasanya, maka akan membuat anak mudah stress dan tantrum. Misalnya, saat anak diberikan screen time diwaktu yang tidak sesuai dengan jadwal rutinitasnya, maka ketika waktu screen timenya selesai, kemungkinan besar anak menjadi rewel dan tantrum. Oleh sebab itu, membuat jadwal rutinitas sehari-hari penting dilakukan agar anak terbiasa dengan ritme atau pola hidup yang mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab.  

Hal yang juga saya lakukan jika memang pada kondisi tertentu anak harus diberi distraksi (gadget), maka waktu screen time keesokan harinya harus dikurangi atau dipotong jatah waktunya dari biasanya. Hal ini pun membutuhkan keterlibatan orang tua, dimana orang tua harus siap menyediakan waktunya mendampingi anak. Sejalan dengan tulisan berikut yang menyatakan bahwa mengatur screen time anak akan berhasil jika seluruh anggota keluarga juga terlibat. Ketika kita menerapkan peraturan tentang screen time, maka seluruh anggota keluarga yang ada di rumah harus menaati peraturannya (Generos, 2022).

4 aktivitas di atas tidak hanya bertujuan untuk mengurangi screen time pada anak, melainkan juga untuk memenuhi tugas perkembangannya agar bisa tumbuh dan berkembang dengan optimal. Selain pemberian aktivitas yang bermanfaat, anak juga membutuhkan nutrisi yang tepat untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya. Selain dari nutrisi makanan yang dikonsumsi anak, pemberian vitamin juga bisa dilakukan, salah satunya pemberian vitamin dari generos. Generos dapat menjadi penunjang kebutuhan nutrisi untuk tumbuh kembang optimal anak. 

Generos merupakan multivitamin untuk otak yang didukung dengan 5 bahan utama alami Quantum. Generos telah dujii, sehingga mampu menjadi nutrisi dan menangkal gangguan radiasi bebas yang bisa berbahaya bagi otak anak. Maka dari itu proses pembuatan Generos diawasi oleh para ahli yang menghasilkan nutrisi untuk otak anak cerdas Indonesia.

Adapun proses Generos terdiri dari 4 tahapan yang dikembangkan secara unik dalam kurun waktu lebih dari 15 tahun. Tahapan proses Generos disebut 4 Quantum yang meliputi proses seleksi bahan organik, ekstrasi bahan, maserasi, dan kombinasi. Produk Generos menggunakan bahan-bahan yang memiliki khasiat terbaik dengan mengumpulkan 5 bahan alam terbaik dengan unggulan dan khasiat yang saling melengkapi.

(Sumber foto: https://generos.id/generos-anak-lancar-bicara/)


Referensi: 
https://generos.id/2022/06/14/studi-menemukan-screen-time-berlebihan/
https://generos.id/2022/05/12/tantrum-pada-anak-termasuk-gejala-speech-delay/
https://generos.id/2022/03/14/7-prinsip-mengatur-screen-time-anak/
https://generos.id/generos-anak-lancar-bicara/





Komentar

Postingan populer dari blog ini

KELABU

BISING

Kesalahan Mengatasi Sibling Rivalry