Mengingat Kematian Agar Tak Seperti Para Durjana

 


Judul Buku      : The Day after You Die:                  Menelusuri Perjalanan Para Durjana                        Setelah Kematian hingga Neraka.

Penulis            : Abu Bassam Oemar Mita

Cetakan           : 2, Desember 2021

Penerbit          : Penerbit Zaduna

Ketebalan       : 350 halaman

ISBN                :978-623-98702-0-1

 

"Dulu saya tidak tahu mengapa saya suka melakukan kemaksiatan. Sekarang saya menyadari bahwa hidup begitu singkat, tidak cukup mengejar waktu yang tersisa untuk memperbaikinya. Cukup saya saja yang menyesal. Please, kamu jangan." (hlm. 309)

Buku ini ditulis oleh seorang penceramah yang cukup terkenal di Indonesia yang sering dipanggil dengan sebutan Ustadz Oemar Mita. Sebab penulisnya adalah seorang Ustadz, maka tidak ada ragu sama sekali untuk meyakini kebenaran yang dipaparan di setiap bab buku ini. Sebagaimana umat muslim yang mengimani adanya hari akhir.

Penjelasan setiap bab dilengkapi dengan firman Allah dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Di setiap awal bab terdapat tulisan pembuka yang disampaikan dengan pemilihan diksi yang kaya dan penuh makna, serta ilustrasi yang menggambarkan setiap perjalanan menuju surga dan neraka. Menurut saya, penggambaran tersebut membuat buku ini semakin kompleks dan menimbulkan daya tarik pembaca untuk menyelesaikan membaca buku ini.

Setiap membaca lembar per lembarnya membuat hati saya gemetar, risau mengingat dosa yang semakin bertambah setiap harinya. Penggambaran neraka dibuat jelas di awal bab, seperti dialog Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada Jibril, “Wahai jibril, kenapa saya tidak pernah melihat Mikail tersenyum. Maka Jibril menjawab, “Sesungguhnya Mikail itu tidak pernah tersenyum semenjak api neraka diciptakan.” (HR. Ahmad)” (hlm. 29).

Tulisan tersebut membuat saya merinding ketakutan membayangkan betapa mengerikannya suasana di neraka. Jangankan manusia, malaikat penjaga yang dicipatakan oleh Allah khusus bertugas menjaga di depan pintu neraka saja tak pernah tersenyum, saking buruknya neraka yang Allah ciptakan untuk mereka yang Ia kehendaki.

Lalu, siapa saja mereka yang berpeluang mendapatkan ganjaran jilatan api neraka? Di dalam buku ini disebut dengan istilah ‘mereka yang melampaui batasan’, yaitu mereka yang musyrik, mereka yang zalim, mereka yang fasiq, mereka yang munafik, dan mereka yang berdosa (Mujrim). Setiap dari mereka yang disebutkan Allah diberi berbagai macam “fasilitas tak biasa” saat di dunia. “Seolah, fasilitas ini membuat mereka lebih tinggi, namun justru fasilitas itu akan menjatuhkan mereka hancur berkeping-keping, kecuali jika mereka mau membuka gerbang tobat.” (hlm. 60)

Jadi benar adanya bahwa setiap kenikmatan yang Allah berikan di dunia, tidak selamanya baik untuk kita, sebab akan menjadi boomerang ketika kita kufur akan nikmat tersebut. Terlebih lagi dengan sombong menganggap segala kenikmatan yang dirasakan semata-mata hanyalah hasil kerja keras sendiri, hingga melupakan zat yang memiliki kuasa atas segalanya, dimana sifat inilah yang menggambarkan para kaum durjana selama di dunia.  

Padahal kalau lah mereka tahu bahwa nikmat diberi umur panjang adalah ujian, seperti tulisan berikut: “Para Durjana itu justru biasanya panjang umurnya. Dengan umurnya yang panjang, bertambah dosanya, bertambahlah kemaksiatannya, dan bertambah sempurna pula azab yang akan ditimpakan kepada mereka. Sekaligus pula itu menjadi ujian bagi mereka yang berjalan di atas kebenaran, apakah mereka tetap istiqamah dan konsisten di atas kebenaran ataukah tidak? Allah itu kalau menghukum manusia tidak selalu identik dengan musibah alam; tsunami, banjir, atau tanah longsor, tetapi terkadang Allah itu ketika memberikan hukuman kepada manusia, Allah akan tenggelamkan dia dalam kesenangan duniawi.”  (hlm. 69)

Tulisan tersebut membuktikan bahwa manusia tidak patut berbangga diri yang sejatinya selalu berbuat dosa. Bahkan kesempatan untuk hidup lebih lama pun menjadi ujian di dunia. Saat membaca bagian tersebut, menimbulkan pertanyaan dibenak saya “Masih ingin menyia-nyiakan sisa hidup untuk hal-hal yang tidak mendatangkan kebaikan? Masih ingin beribadah dengan apa adanya?” Sementara ibadah diterima atau tidak hanya menjadi rahasia Allah. Dalam buku ini berkali-kali disebutkan “hanya Allah yang menghendaki siapa saja yang masuk surga dan siapa saja yang masuk neraka” bahkan binatang pun akan dihisab dihari kemudian.

Sama seperti judulnya The Day after You Die, Ustadz Oemar Mita memaparkan dengan jelas kehidupan demi kehidupan yang akan dilalui setelah kematian.

Pertama, ujian yang gagal saat menapak alam barzakh, dimana kehidupan di alam barzakh memetakan posisi mereka masing-masing sesuai dengan takaran dosa yang telah digoreskan. Ada yang terus-terusan mendapatkan siksa kubur, tetapi adapula yang siksa kuburnya hanya sementara saja. Semua itu tergantung dari ragam dosa yang dilakukan. Saat siksa kubur nyata dirasakan, tak ada yang bisa mengelak, bahkan menyesal pun tak ada gunanya.

Kedua, hari perhitungan (hisab) yang meliputi semua hal tanpa terkecuali. “Sesungguhnya hal yang pertama kali dihisab adalah pada sesuatu yang berhubungan dengan Allah, yaitu tentang shalatnya dan sesuatu yang berhubungan dengan sesama manusia, yaitu urusan darah.” (hlm. 142). Pada hari perhitungan, manusia akan dikumpulkan bersama mereka yang memiliki niat yang sama, jika niatnya hanya ingin meraih dunia maka ia akan berkumpul bersama hamba dunia. Jika niatnya ingin meraih akhirat, maka ia akan dikumpulkan bersama hamba akhirat.

Ketiga, saat mizan ditegakkan maka pengadilan Allah menjadi bukti dari sebuah keadilan. “Sebuah timbangan yang begitu adil, tanpa ada kecurangan dan berat sebelah karena dia begitu akurat sesuai persis dengan apa yang dikerjakan oleh manusia. Sebuah timbangan yang memiliki dua sisi neraca untuk mengetahui berat manakah yang lebih antara kebaikan dan keburukan amal manusia.” (hlm. 161).

Keempat, setelah semua amal baik dan buruk di timbang, perjalanan kembali dilanjutkan dengan memasuki telaga nabi. Sayangnya, tidak semua yang melewati telaga nabi bisa menikmati air yang ada di telaganya. Lalu, siapa saja mereka yang akan merasakan nikmatnya meminum air dari telaga nabi? Yaitu mereka yang beriman kepada Allah dan mengamalkan sunah Rasullullah. Sedang mereka yang terusir dari telaga, mereka tidak bisa membaur dengan Rasulullah dan tidak diberikan izin untuk meminum air telaga yang airnya lebih putih dari susu dan manisnya lebih manis dari madu. Siapakah mereka? “Semua orang yang murtad dari agama Allah, atau membuat bid’ah yang tidak diridhai dan tidak diiinkan oleh Allah, merekalah orang-orang yang diusir dan dijauhkan dari telaga....Demikian pula orang-orang zalim yang melampaui batas dalam kezalimannya, memberangus kebenaran, membunuh dan menghina para pembawa kebenaran, orang-orang yang terang-terangan melakukan dosa besar, menganggap remeh kemaksiatan, serta kelompok menyimpang, penganut hawa nafsu dan bid’ah.” (hlm. 174)

Kelima, perjalanan berlanjut dengan melewati shirath. Shirath adalah jembatan yang dibentangkan diantara kedua sisi neraka jahanam, tempatnya begitu licin lagi menggelincirkan, diatasnya terdapat besi-besi pengait yang besar, memiliki duri yang bengkok. Sungguh perjalanan melintasi shirath adalah momen yang paling menegangkan dan ujian yang paling berbahaya, sebab dibawah shirath terdapat neraka jahanam yang apinya siap melahap habis siapa saja yang tergelincir jatuh ke dalamnya.

Terakhir adalah eksekusi neraka yang diputuskan untuk para durjana. Penggambaran neraka pun di paparkan sangat jelas dalam bab ini. Cuaca, properti, suasana neraka, hingga menu dan sajian yang berupa siksaan neraka yang tak ada habisnya. Saat nanti eksekusi neraka diputuskan untuk para tawanannya, mereka akan memasuki neraka secara berombongan dan bergolongan, seperti yang terdapat pada Quran surat Az-Zumar ayat 71.

Semua rentetan perjalanan yang akan dilalui setelah kematian, memberi kesan yang sungguh mengerikan. Bahkan menimbulkan perasaan yang sangat tidak aman bagi yang membaca. Tetapi di bab terakhir buku ini, Ustadz Oemar Mita menuliskan bahwa rahmat Allah jauh lebih besar dari murkanya. Sehingga bagian ini adalah penutup yang membuktikan bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar dari murkanya. Allah akan membukakan pintu maaf yang seluas-luasnya bagi hambanya yang mau bertobat dan kembali ke jalan-Nya. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda dalam haditsnya, “Pendosa yang selalu mengharap rahmat Allah itu lebih dekat kepada Allah dibanding hamba yang putus asa akan rahmat Allah.” (hlm. 302).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KELABU

BISING

Kesalahan Mengatasi Sibling Rivalry