Ibu Depresi? Siapa yang Salah?
Depresi bisa dialami oleh siapa saja, termasuk seorang ibu. Bahkan seorang ibu tergolong orang yang rentan mengalami depresi. Betapa tidak, peran ibu dapat membuat seorang wanita mengalami perubahan drastis pada dirinya, ditambah tugas-tugas multiperan yang harus ia jalani. Dimana multiperan ini mencakup perannya sebagai seorang individu, istri, dan ibu. Mengurus diri sendiri, suami, anak, rumah, belum lagi kalau ibu bekerja di ranah publik, maka bertambah lagi urusannya. Dari situ lahirlah istilah waktu 24 jam tidak cukup bagi seorang ibu.
Belum lama ini, kita dikagetkan
dengan pemberitaan seorang ibu yang tega menggorok leher anaknya hingga tewas.
Berbagai penyebab pun muncul ketika ibu tersebut mengutarakan alasannya saat
diwawancarai di dalam tahanan. Ya, apalagi kalau bukan karena tekanan hidup
yang berujung depresi.
Lantas, apa saja sih yang menjadi penyebab seorang ibu
mengalami depresi? Berdasarkan beberapa literatur yang saya baca dan pengalaman
3 tahun menjadi seorang ibu, penyebab depresi dikarenakan 2 hal, yaitu
faktor internal dan eksternal.
Faktor internal adalah faktor dari dalam diri, yang meliputi:
Luka pengasuhan atau inner child yang terluka
Faktor yang paling sering menjadi penyebab depresi adalah adanya luka pengasuhan atau inner child yang terluka. Ketika masa kecil kita diwarnai dengan bentakan, pukulan, dan cacian dari orang tua atau orang terdekat, maka tindakan tersebut berpeluang besar menggoreskan luka dijiwa kita, yang akan menimbulkan trauma di masa depan. Luka ini jika dibiarkan berlarut-larut dan tidak segera disembuhkan, maka akan menggrogoti jiwa kita. Parahnya lagi, inner child yang terluka akan membahayakan bagi tumbuh kembang anak kita. Sebab kita berpotensi menerapkan pola asuh yang sama dengan orang tua kita dulu. Olehnya itu, jika kita merasakan adanya luka pengasuhan dalam jiwa kita, sebaiknya segera diobati agar tidak merusak diri sendiri dan orang lain, termasuk anak-anak kita.
Sedang berada di titik lemah iman
Lemah iman ya,
bukan kurang iman. Karena lemah dan kurang itu kata yang maknanya berbeda.
Lemah merujuk pada kodrat manusia yang seringkali mengalami kondisi iman yang
naik dan turun. Sedangkan kata kurang, merujuk pada frekuensi yang bisa
ditakar. Padahal iman seseorang tidak bisa ditakar oleh sesama manusia, yang
bisa menilai hanyalah Allah Subhanahu Wa
Ta’ala.
Ketika iman kita sedang lemah, maka besar peluang setan menggoda kita melakukan tindakan yang menyimpang. Oleh sebab itu, saat hati merasa mudah sekali terpengaruh untuk melakukan tindakan yang menyakiti, segeralah istirahatkan hati dengan kembali meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita.
Manajemen Waktu yang Berantakan
Menurut saya, mempunyai manajemen waktu yang baik adalah wajib bagi seorang ibu. Sebagai seorang ibu, kita harus sadar bahwa multiperan yang kita jalani butuh manajemen waktu yang baik. Bayangkan jika kita memiliki manajemen waktu yang berantakan, bisa dipastikan semua pekerjaan dihari itu menjadi tekanan bagi kita. Mengapa? Karena kita bekerja dengan terburu-buru, sehingga mau tidak mau dituntut untuk multitasking. Padahal multitasking bukanlah solusi, karena multitasking akan menurunkan daya ingat dan membuat tidak fokus. Sebab manajemen waktu yang buruk itulah seringkali memberikan tekanan yang memicu terjadinya stress.
Terlalu lelah
Faktor ini dapat
dikaitkan dengan manajemen waktu yang berantakan. Terlalu memaksakan mengerjakan
semuanya dalam satu waktu tanpa jeda, akan membuat fisik kita jauh lebih lelah.
Mental pun lelah, karena menimbulkan pemikiran bahwa semua pekerjaan rumah dan
mengasuh anak sepenuhnya ada ditangan kita. Suami tidak memberi kontribusi sama
sekali dengan alasan sibuk bekerja, dan menganggap urusan rumah dan anak
sepenuhnya menjadi tanggung jawab istri.
Percayalah, ibu yang terlalu lelah akan mudah terpantik amarahnya, setan pun memanfaatkan kesempatan ini untuk menggoda kita melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti membentak anak, mencubit, memukul, dan lain sebagainya. Ibu yang terlalu lelah akan menjadikan anak sebagai sasaran empuk pelampiasan amarahnya. Mengapa anak? Karena anak posisinya paling lemah dalam keluarga. Oleh sebab itu, jika kita sudah merasakan sinyal-sinyal lelah itu muncul, segeralah beristirahat, tinggalkan sejenak pekerjaan yang bisa ditunda dan dikerjakan diwaktu yang lain.
Selalu menyalahkan diri sendiri
Kesulitan menerima keadaan biasanya menjadi pemicu untuk menyalahkan diri sendiri. Seringkali yang menjadi penyebabnya adalah memasang ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri dan orang lain. Ditambah lagi jika memiliki kemampuan penerimaan diri yang rendah, terlalu berambisi, dan lupa akan kapasitas diri. Kurangnya me time bisa jadi penyebab mengapa kita seringkali menyalahkan diri sendiri. Me time merupakan salah satu wujud syukur kita akan diri sendiri. Ketika kita bersyukur terhadap diri sendiri, maka kita pun memiliki penerimaan diri yang baik dengan merasa cukup atas kelebihan dan kekurangan. Semoga dengan adanya penerimaan diri yang baik, kita bisa mencegah depresi.
Tidak bisa beradaptasi dengan peran baru
Depresi juga
seringkali dialami oleh ibu baru (new mom).
Kondisi pasca melahirkan membuat seorang wanita yang belum berpengalaman, kadang
kala mengalami kesulitan beradaptasi menjalani peran barunya sebagai seorang
ibu. Setelah kita menyandang gelar sebagai seorang ibu, maka skala prioritas
tak lagi sama, tanggung jawab pun bertambah untuk memenuhi kebutuhan anak.
Mulai dari merawat bayi baru lahir, belajar menyusui yang seringkali mengalami
kendala, hingga jam tidur yang berantakan. Jika seorang ibu tidak memiliki
kesiapan mental dalam menghadapi kondisi tersebut, maka mudah diserang baby blues bahkan berlanjut dengan post partum depression atau depresi
pasca melahirkan.
Tetapi, perlu diketahui adaptasi peran baru ini juga dialami oleh ibu yang baru melahirkan anak kedua, anak ketiga, dan seterusnya. Mengapa? Karena bertambahnya jumlah anak berarti bertambah pula tanggung jawab seorang ibu. Jadi tidak menutup kemungkinan ibu yang sudah pernah melahirkan sebelumnya akan kembali mengalami baby blues yang juga bepeluang mengalami post partum depression.
Kemudian faktor eksternal yaitu faktor dari luar diri atau lingkungan. Jika berbicara dari luar diri, maka faktor ini biasanya sulit kita kendalikan, yang meliputi:
Support System yang Rusak
Menjalani peran
seorang ibu tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan dari pasangan. Ya, suami
adalah support system yang utama bagi
seorang istri, tanpa peran suami, mustahil proses pengasuhan berjalan seimbang.
Sebab dalam pengasuhan, suami dan istri mempunyai perannya masing-masing yang
tidak bisa dicampur adukkan satu sama lain. Disini, suami tidak hanya terlibat
dalam pengasuhan saja, melainkan juga dalam urusan rumah tangga.
Salah satu
penyebab ibu mengalami depresi karena support
systemnya mengalami kerusakan. Ya, rusak karena tidak menjalankan tugasnya
sebagai suami dan ayah dengan semestinya. Terlebih lagi jika suami melakukan
perbuatan yang melanggar hukum, seperti melakukan KDRT, selingkuh, dan tidak
berpenghasilan atau tidak memberi nafkah lahir dan batin.
Jadi jangan heran, ketika media memberitakan kasus ibu depresi, para ibu-ibu lain akan beramai-ramai berseru bahwa memberi kode pada suaminya masing-masing “tolong ya para suami, istrinya diperhatikan” Ya, sebab hanya para istri yang paham betul bahwa istri butuh kehadiran suami sebagai partner yang bisa diajak bekerja sama.
Selain suami,
keluarga termasuk support system bagi
seorang ibu. Setidaknya, jika suami tidak lagi menjadi tempat untuk bersandar,
masih ada keluarga sebagai tempat untuk pulang. Tetapi sayangnya, tidak semua
keluarga bisa menjadi support system
yang baik. Ironisnya keluarga malah menjadi tempat terpuruknya seorang ibu,
label “tidak becus menjadi istri dan ibu” pun lahir dari mulut keluarga
sendiri. Selanjutnya, berada dilingkungan tetangga yang toxic, bersikap tak peduli, atau malah sering berkomentar menyakiti
hati.
Akhirnya, saat semua support system rusak, ibu mengalami depresi dan melakukan tindakan diluar nalar.
Masalah Ekonomi Keluarga
Tidak dapat
dipungkuri bahwa ekonomi keluarga temasuk penyebab seorang ibu mengalami depresi.
Biaya hidup yang mahal, tidak berpengahasilan tetap, ditambah lagi banyaknya
jumlah anak, membuat kondisi keuangan keluarga semakin terjepit. Sementara itu,
kebutuhan hidup setiap harinya harus terpenuhi, minimal kebutuhan makan.
Biasanya adanya masalah himpitan ekonomi disebabkan oleh suami yang tidak bertanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga. Sehingga lagi-lagi, istri harus bertindak sendiri untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Jadi, jika ada pertanyaan siapa
yang harus disalahkan? Jawabannya adalah balik lagi ke pribadi masing-masing, bagaimana
ia menyikapi roller coaster kehidupan.
Faktor internal dan eksternal adalah penyebab depresi yang saling tumpang-tindih
jika tidak segera ditangani.
Oleh sebab seorang ibu rentan
mengalami depresi, maka perlu kita belajar menyikapi penyebabnya. Kita pun
harus membekali diri dengan ilmu agama, ilmu kesehatan mental, dan juga ilmu parenting untuk mendukung peran kita
sebagai seorang ibu. Ketiga ilmu ini akan membantu kita menekan stress dan
depresi. Bahkan ketika kita mengalami stress, akan ada sinyal dari dalam diri
kita yang memberi kode bahwa "kamu sedang tidak baik" Saat ada sinyal
seperti itu, maka kita bisa mempraktikkan ketiga ilmu tersebut.
Ilmu agama akan menuntut kita
untuk mengistirahatkan hati dengan mendatangi majelis-majelis ilmu, atau bisa
juga dengan mendengarkan kajian atau ceramah secara online, dan meningkatkan kualitas
ibadah wajib dan sunnah.
Ilmu kesehatan mental akan memberikan
kita skill agar bisa melakukan self healing di rumah. Jika self healing tidak memberi solusi, kita pun
sadar untuk mencari pertolongan dari ahlinya seperti konselor atau psikolog.
Ilmu parenting akan memberi kita petunjuk dalam pengasuhan, apalagi saat
menemui tantangan dan kendala pada setiap fase tumbuh kembang anak.
Terakhir, mulailah berkontribusi
semampu kita untuk menyebarkan informasi terkait pentingnya merawat kesehatan
mental. Lalu jadilah pribadi yang mampu berempati pada siapa saja yang mengeluhkan
perannya sebagai ibu. Jika tidak mampu berempati, setidaknya tahan diri untuk
tidak menyakiti.
Komentar
Posting Komentar