Oh, Begini Rasanya!

Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata ibu rumah tangga? Di rumah saja? Hanya mengurus urusan dapur? Tidak menghasilkan uang?

Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang ibu rumah tangga. Ada yang menganggap menjadi ibu rumah tangga itu enak, duduk diam di rumah hanya menunggu nafkah bulanan dari suami yang terus mengalir. Ada pula yang menganggap menjadi ibu rumah tangga itu sulit karena ruang kerjanya yang sempit, ditambah lagi harus mengerjakan segudang pekerjaan rumah yang rasanya tidak pernah ada habisnya, bahkan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga minim apresiasi, dan tidak ada keuntungan dari segi materi. Sehingga banyak yang menganggap menjadi ibu rumah tangga tidak memberikan keuntungan sama sekali, yang akhirnya dibanding-bandingkan dengan mereka para ibu pekerja yang lebih mandiri dan bisa menghasilkan uang sendiri.

Dulu sebelum menikah, tidak pernah terbesit sama sekali dipikiran saya akan menjadi seorang ibu rumah tangga. Sebelumnya saya memiliki banyak mimpi untuk berkarier di lingkungan sekolah maupun kampus. Kalau bisa sih kariernya merambah sampai di lingkungan masyarakat luas. Ingin bekerja sebagai ini dan itu pun masuk di list cita-cita saya dimasa depan. Melanjutkan sekolah sampai di jenjang magister pun saya lakukan demi menggapai cita-cita. Tetapi, setelah berada di masa kini, semua cita-cita itu harus menunggu untuk diwujudkan. Meskipun entah kapan cita-cita itu bisa terwujud. Semua ini saya lakukan untuk sesuatu yang lebih prioritas.

Sebenarnya menjadi ibu rumah tangga bukanlah pilihan bagi saya, tetapi suatu kewajiban yang harus saya jalani. Setelah dilalui, ternyata peran ibu rumah tangga mampu memberikan banyak sekali pelajaran dan pengalaman hidup yang pastinya tidak akan saya temui jika saya berkarier di luar rumah. Ditambah lagi peran ini saya jalani tanpa bantuan pengasuh dan asisten rumah tangga, serta jauh dari keluarga besar.

Mulai dari aspek emosi, ya menjadi ibu rumah tangga kadang emosinya stabil, dan kadang pula labil. Mengerjakan tugas domestik yang itu-itu saja bahkan merasa pekerjaan ini tidak ada habisnya, malah terus bertambah. Belum lagi mengurus 2 orang anak yang masih balita, yang juga mereka sedang belajar mengenal emosinya. Bisa dibayangkan bukan, betapa oh betapa menantangnya menjadi seorang ibu. Ya, ibu rumah tangga yang setiap harinya 24 jam selalu bertatap muka dengan balitanya. Alhamdulillah ala kulli haal. Dari keseharian bersama anak-anak inilah seringkali membuat emosi marah saya tak terkontrol, hingga saya sadar bahwa kebiasaan marah-marah yang tak terkontrol ini harus segera diatasi. Jika tidak, akan berbahaya untuk diri saya sendiri dan anggota keluarga yang lain, apalagi untuk tumbuh kembang anak (boleh dibaca postingan yang sebelum-sebelumnya).

Peran sebagai ibu rumah tangga seringkali membuat iri bagi ibu pekerja di luar sana yang juga ingin merasakan menjadi ibu rumah tangga. Namun sayangnya mereka harus tetap bekerja di luar rumah untuk membantu suami mencari nafkah, atau ada pula yang menjadi generasi sandwich. Beberapa kali teman, bahkan saudara ada yang memuji dengan peran saya sebagai ibu rumah tangga yang selalu bisa setiap hari menemani anak-anak di rumah, apalagi sekarang suami juga bekerja dari rumah. Berasa peran ini begitu double manfaat (seperti tagline iklan). Tetapi lagi-lagi tidak selamanya apa yang dipandang orang lain itu selalu baik, apalagi belum merasakan langsung pengalamannya. Karena setiap peran, baik itu ibu rumah tangga maupun ibu pekerja, sama-sama memiliki nilai plusnya. Hanya bagaimana kita menyikapi perannya. Menurut saya, tidak selamanya seorang perempuan menjadi ibu rumah tangga, dan juga tidak selamanya seorang perempuan menjadi ibu pekerja. Peran ini hanyalah persoalan waktunya saja.

Bagi saya yang sudah 5 tahun terakhir menjalani peran sebagai ibu rumah tangga, merasakan banyak keuntungan dalam menjalani peran ini.

Pertama, semua pekerjaan rumah tidak dibatasi oleh waktu, bahkan bisa mengubah waktu kapan mengerjakan ini dan kapan mengerjakan itu.

Ya, menyelesaikan pekerjaan disesuaikan dengan kondisi. Maka pekerjaan yang kondisional itulah sebenarnya yang memudahkan ibu rumah tangga bisa menekan stress akibat pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya. Kalian yang merasa sudah tidak menikmati menjalani peran ibu rumah tangga, coba dilonggarkan lagi tugas-tugas domestiknya. Jangan memaksakan jika akhirnya banyak merugikan diri kita sendiri, ambillah waktu istirahat lebih lama. Bisa juga dengan mengevaluasi manajemen waktu yang ada, barangkali manajemen waktu yang sudah dibuat sudah tidak cocok lagi dengan kebiasaan keluarga. Dan bolehlah sekali-kali membeli makanan diwarung atau nge-gofood supaya waktu kita lebih longgar mengerjakan yang lain.

Kedua, memiliki waktu untuk tidur siang.

Bagi saya inilah bonus yang paling utama untuk ibu rumah tangga. Bisa tidur siang bersama anak merupakan hal yang sulit ditemukan untuk ibu pekerja. Dimana mereka hanya bisa tidur siang di hari libur atau akhir pekan saja. Maka untuk kita ibu rumah tangga gunakanlah kesempatan tidur siang ini, karena banyak yang ingin tidur siang tetapi tidak bisa karena harus tetap bekerja.

Ketiga, menyaksikan langsung proses pertumbuhan dan perkembangan anak setiap waktu.

Inilah yang menjadi alasan suami untuk saya tetap menjadi ibu rumah tangga. Karena pengaruh pengasuhan lebih besar berada ditangan seorang ibu. Ya, saya pun meyakini hal itu, sehingga tidak mudah bagi saya untuk menerima alasan itu. Hadir langsung menemani pertumbuhan dan perkembangan anak, adalah kesempatan terbesar saya untuk menerapkan ilmu-ilmu yang pernah saya dapatkan dibangku kuliah sarjana dan magister tentang psikologi perkembangan. Yang membuat saya lebih paham bahwa praktik langsung tidak semudah mempelajari teorinya.

Keempat, mempunyai kesempatan belajar lebih banyak.

Tidak bisa dipungkiri bahwa semenjak menjadi ibu rumah tangga saya memiliki kesempatan yang besar untuk belajar ilmu lain, seperti agama, parenting, kesehatan mental, financial planning, hingga ilmu dalam menulis. Karena pekerjaan ibu rumah tangga tidak terbatasi oleh waktu, dan pekerjaannya bisa dikerjakan kapan saja, maka kesempatan belajar pun lebih banyak. Bisa bergabung dengan komunitas online, megikuti kuliah whatsapp, seminar dan workshop online, pun juga memiliki waktu lebih banyak untuk membaca buku.

Kelima, bisa menghasilkan karya.

Menulis adalah passion yang sudah hampir 3 tahun terakhir saya tekuni. Alhamdulillah, saya sudah melahirkan 20 buku antologi, dan 1 buku solo. Lagi-lagi berkat peran sebagai ibu rumah tangga inilah karya-karya itu bisa lahir, yang sebagian besar hasil karya itu adalah perjalanan saya menjalani multiperan ini (individu, istri, dan ibu). Jika saya tidak menjadi ibu rumah tangga, bisa jadi karya-karya itu tidak akan ada.

Jika kalian berpikir bahwa menjadi ibu rumah tangga yang hanya di rumah saja adalah sebuah zona nyamannya seorang wanita, bisa jadi kalian salah. Mengapa? Karena di rumah saja bukan tentang nyamannya kita menjalani peran ibu rumah tangga, tetapi se-kreatif apa kita menjadikan peran ibu rumah tangga peluang untuk berkarya.

Proses melahirkan karya, butuh keluar sedikit dari zona nyaman tanpa memandang status seorang ibu rumah tangga.

Bagi teman-teman yang tertarik membeli buku solo pertama saya, kalian bisa pesan melalui kontak WA 085340482091.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

KELABU

BISING

Kesalahan Mengatasi Sibling Rivalry