Mengapa Ilmu Agama, Parenting, dan Kesehatan Mental?
Ilmu agama adalah ilmu yang penting dan utama untuk kita pelajari, tidak hanya ketika menjadi orang tua saja. Tetapi, akan semakin baik ketika sudah menjadi orang tua, kita makin memperdalam ilmu agama. Bisa dengan mendengarkan ceramah di youtube, atau dengan mendatangi majelis ilmu, bisa dengan tadabur Al-Qur’an, dan membaca buku. Mengapa penting? Anak adalah amanah yang harus dijaga fitrahnya, ketika kita tahu bahwa anak adalah anugerah dari Allah, maka kita akan menjaga anugerah itu sebaik-baiknya. Namun yang menjadi persoalan disini adalah ketika kemampuan kita sebagai manusia pun terbatas. Kelelahan yang teramat sangat akan mudah memantik amarah.
Dimana emosi marah inilah yang biasanya
hadir saat mengasuh anak. Marah adalah emosi dasar manusia, namun sering muncul
ketika anak melakukan kesalahan. Ketika kita marah inilah jalan setan menggoda
agar kita berlaku kasar ke anak. Lalu bagaimana cara kita melawan godaan setan
itu? Tentu saja dengan ilmu agama. Dalam agama islam diajarkan cara-cara bisa
lakukan untuk menontrol marah, misalnya dengan mengucapkan ta'awudz, merubah posisi yang tadinya berdiri bisa dengan duduk atau
berbaring, berwudhu, dan lain sebagainya.
Ketika saya lelah, capek
bernegosiasi dengan anak, sementara banyak pekerjaan rumah yang menunggu untuk dikerja,
dan kemarahan sudah diujung lidah, hal yang paling sering saya lakukan adalah
menghindar, lalu menangis. Capek sekali ya bund berada diposisi emosi kita
terancam ambyar. Disatu sisi rasanya sudah tidak kuat lagi berada diposisi ini,
rasanya ingin lari dan bersembunyi di tempat yang paling sunyi.
Jujur ya, saya pernah berada diposisi yang lelah selelah lelahnya menjadi seorang ibu (astaghfirullahalazim) sampai sulit tidur, pikiran melayang-layang, banyak yang dipikirkan tapi tidak tahu dari mana memulai mengeksekusi, sampai benar-benar mengganggu mood beberapa harinya. Hingga saya berada di satu titik dimana hati kecil saya berbisik "perbaiki ibadahmu, perbaiki ilmu agamamu." Apa ini yang namanya hidayah dari Allah?
Tentu saja kesempatan itu harus saya manfaatkan dengan baik. Pada
saat itu saya langsung mengambil HP dan membuka youtube kajian dari
ustadz Oemar Mita. MasyaAllah kajian beliau mampu
mengistirahatkan hati saya yang sangat lelah tadi. Karena anak adalah ujian,
yang menjadi penyebab lelahnya kita menjalani peran sebagai seorang ibu. Maka
cara kita beristirahat dari ujian itu adalah mendengarkan kajian atau bisa
datang langsung ke majelis ilmu. MasyaAllah Barakallahu, efeknya sangat luar
biasa ketika kita mengistirahatkan hati mendengarkan kajian ilmu agama.
Beberapa saat kemudian, pikiran berasa lebih rileks, dan hati jauh lebih tenang. Oleh sebeb itu, saya menyarankan ketika
kalian sudah merasa terlanjur lelah dengan mengasuh anak. Istirahatlah sejenak
dengan mendengarkan ceramah, mendatangi kajian ilmu agama, menambah waktu
shalat, dan membaca buku.
Belum lama ini, saya menamatkan membaca buku yang ditulis oleh ustadz Oemar Mita yang judulnya The Day After You Day. Setelah membaca buku itu, saya benar-benar takut akan dosa yang pernah saya perbuat, khususnya dosa karena tergelincirnya lisan akibat marah ke anak, belum lagi lisan yang juga sering mengeluh capek. Membaca buku itu memotivasi saya untuk menjadikan peran istri dan ibu sebagai ladang pahala yang mudah-mudahan menyelamatkan saya di kehidupan selanjutnya (akhirat).
Penting bagi kita untuk selalu mendekatkan diri sama Allah. Selalu
minta sama Allah agar selalu dikuatkan fisik dan mental kita, dilembutkan
perilaku dan tutur kata kita, dan diberikan kesabaran yang tidak ada
batasannya. Tidak ada yang mampu menolong kecuali Allah. Maka libatkan Allah
selalu dalam pengasuhan.
Selanjutnya, belajar ilmu
parenting. Ini sudah pasti ya teman-teman, bagaimana kita bisa mengasuh anak jika kita tidak tahu ilmunya? Bagaimana kita bisa memahami kondisi anak jika
kita tidak tahu ilmunya? Begitu kira-kira.
Ilmu parenting sifatnya sangat
kompleks, yang dibahas a-z. Yang mana kita tidak bisa mempelajarinya dalam
waktu sehari saja, melainkan kita harus belajar setiap waktu. Bahkan setiap
anak memasuki fase baru di tahap perkembangannya, apalagi ketika kita menemui
tantangan dan jalan bantu selama pengasuhan. Dengan mempelajari ilmu parenting,
kita akan mendapatkan jawaban dari setiap tantangan tersebut. Tapi jangan
salah, orang tua yang belajar ilmu parenting belum tentu akan sukses atau
berhasil terus dalam praktiknya, pasti akan ada kegagalan yang ditemui. Kenapa?
Karena praktiknya tidak semudah dengan membaca teorinya. Ilmu parenting yang
mengusahakan adalah manusia, ketika kita berbicara tentang manusia pasti akan kita
temui keterbatasan. Jadi jangan cepat insecure ketika gagal dalam penerapannya
ya. Gagal, belajar lagi, gagal, belajar lagi, dst.
Ilmu parenting akan membantu
kita meminimalisir tekanan dan stress saat anak melakukan tindakan diluar nalar
kita. Contohnya ketika anak berulang kali ingin menuang air, pun juga
berkali-kali air tersebut tumpah, sehingga kita berpikir “sudah dilarang
berkali-kali tapi tetap saja ingin dilakukan.” Nah, ketika kita belajar ilmu
parenting, kita tidak akan serta merta menyuruh anak berhenti melakukan hal
tersebut. Tetapi tindakan yang kita lakukan adalah dengan memberi anak kesempatan
melakukan hal tersebut berulang-ulang kali. Dalam hal ini kita bertindak
sebagai observer atau pengamat anak. Bisa jadi tindakan yang dilakukan sang
anak adalah sinyal bagi kita bahwa anak ini sedang memasuki periode sensitif
practical life skill. Maka dari itu, kita harus memfasilitasinya.
Contoh ini hanyalah bagian yang
terkecil dari manfaat belajar ilmu parenting, dimana masih banyak manfaat yang akan
membuat kita lebih sadar akan pentingnya menjadi orang tua yang berilmu.
Selanjutnya, ilmu kesehatan
mental. Ilmu ini juga penting untuk kita pelajari. Mungkin terkesan lebay
kenapa harus belajar ilmu kesehatan mental. Saya kan bukan kuliah di jurusan
psikologi? Mengapa saya harus belajar ilmu kesehatan mental? Jawabannya, karena
mengasuh anak melibatkan hubungan emosional yang sangat kuat. Misalnya begini,
ketika anak berbuat salah disaat ibunya sedang bad mood, maka mudah sekali kemarahan sang ibu terpantik. Berbeda halnya
ketika anak orang lain yang notabene tidak memiliki ikatan darah dengan kita, bahkan
baru bertemu dihari itu. Ketika tiba-tiba ia bertingkah yang seolah dapat
memancing marahnya kita, kita masih bisa menahan marah itu. Mengapa? Karena kita tidak memiliki hubungan
emosional dengan anak tadi. Itulah mengapa saya mengatakan belajar ilmu
kesehatan mental juga penting bagi orang tua.
Mengasuh anak membutuhkan mental
yang kuat, mental yang tidak mudah goyah ketika merasa lelah, dan tetap tegar
ketika mengasuh anak dirasa membebani diri. Ilmu mengelola emosi pun kita
butuhkan disaat-saat emosi negatif mendominasi diri kita, apalagi kita adalah
anak yang dulunya dibesarkan dengan pola asuh yang salah. Tentunya akan menjadi
PR besar untuk kita memutus mata rantai itu agar tidak mewariskan luka yang
sama yang berpotensi merusak generasi kita selanjutnya. Saya merekomendasikan
buku yang berjudul Anger Management
yang ditulis oleh kang Dandy Birdy dan teh Diah Mahmudah untuk kalian baca dan
pelajari, bahwasanya teknik-teknik dalam self
healing yang dipaparkan dalam buku tersebut dapat membantu mengontrol emosi
negatif khususnya marah yang berpotensi merusak.
Oleh karena itu, kesehatan mental
seorang ibu patut menjadi perhatian selama mengasuh anak. Anak yang bahagia terlahir
dari ibu yang juga bahagia atas dirinya sendiri.
Semoga bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar