Tentang Sibling Rivalry

Di setiap fase pertumbuhan dan perkembangan anak, orang tua pasti akan menemui tantangan yang tidak jarang bikin pusing kepala. Begitu pula dengan tantangan baru yang saya rasakan sekarang. Ya, Sibling Rivalry! Sebenarnya bukan yang baru sekali sih, karena sibling rivalry ini sudah ada sejak kakak usia 2,5 tahun, dan adiknya 1,5 tahun. Kira-kira sudah 6 bulan terakhir saya masih berada ditahap penyesuaian sambil belajar menangani situasi sibling rivalry ini.

Awalnya saya berpikir ketika anak-anak memasuki usia 2 tahun yang menjadi PR besar adalah menangani emosinya yang sering diistilahkan dengan terribel twos yang erat kaitannya dengan munculnya tantrum. Sehingga saya lebih banyak membaca referensi tentang penanganan soal tantrum saja. Namun rupaya setelah kakak memasuki usia 2,5 tahun muncul tantangan baru yaitu sibling rivalry yang juga sepaket dengan penanganan emosi, tetapi sibling rivalry ini sedikit lebih kompleks karena saya harus memperhatikan kondisi kedua anak saya.

Tantangan sibling rivalry yang pertama kali saya temui adalah ketika kakak berusia 2,5 tahun dan adiknya 1,5 tahun. Saat itu saya melihat kekuatan kakak yang cukup besar dari yang biasanya. Saya melihat kakak yang saya pikir selama ini sangat kalem, berubah menjadi dia yang benar-benar berbeda. Terlihat jelas saat itu dia berusaha berkali-kali mempertahankan miliknya dengan cara yang anarkis. Tetapi sebenarnya jika dilihat dari kacamata yang berbeda, ada positifnya juga dibalik dia mempertahankan kepemilikannya, yaitu dia punya potensi untuk membela apa yang menjadi haknya. Tetapi caranya saja yang masih keliru.

Tantangan sibling rivalry yang kedua adalah setelah adiknya sudah berusia mendekati 2 tahun, adik pun sudah bisa melawan dengan caranya yang persis sama dengan kakaknya. Walhasil, keduanya baku hantam alias saling pukul. Aduh, Ngeri lah kalau ingat kejadian itu. Sebab adiknya sudah bisa melawan dengan cara yang sama seperti kakaknya, maka PR besar saya adalah memberikan penanganan bagi keduanya. Terutama pendekatan pada emosinya.

Duh, menjadi wasit diantara 2 orang anak yang sedang panas-panasnya adalah hal yang sulit sekali bund. Beruntung jika emosi saya juga pada saat itu sedang netral, tetapi jika emosi saya juga terpancing ambyar kan bertambah lagi masalahnya. Ah, sangat menantang memang berada di posisi ini.

Itulah mengapa pada tulisan saya yang sebelumnya, menyarankan untuk orang tua juga belajar ilmu kesehatan mental, termasuk anger management. Supaya saat kita menemui tantangan sibling rivalry, setidaknya kita sendiri mempunyai kemampuan mengelola emosi marah kita dengan baik.

Untuk anak yang masih berusia 1-3 tahun seperti usia anak-anak saya sekarang, sibling rivalry akan menimbulkan tantrum pada anak. Ketika mereka rebutan mainan dan salah satunya akhirnya kalah, bisa dipastikan yang kalah itu akan tantrum atau menangis sejadi-jadinya. Ketika kondisi seperti itu, saya biasanya membiarkan anak melampiaskan kemarahannya dengan menangis memberontak, tetapi tetap mamastikan keadaan sekitarnya aman dari barang-barang yang bisa melukai. Tetapi berbeda ketika anak yang tantrum ini menangis dengan menatap saya penuh belas kasihan, saya langsung memeluknya dan mencoba menenangkan. Biasanya ada kondisi dimana anak meminta tolong dengan tangisan penuh belas kasih. Duh, kalau sudah seperti itu hati seorang ibu pasti luluh.

Nah, perlakuan yang berbeda pun terjadi kepada anak yang menang tadi, saat kondisinya mulai tenang, saya biasanya memberitahu dengan lembut kalau kita tidak boleh menyakiti, memukul itu sama dengan menyakiti. Dan selalu memberitahu mereka kalau kakak/adik mau memukul, kakak/adik lari minta tolong ke mama atau ayah (tips untuk menghindar dan meminta tolong).

Adapun perlakuan yang sama ke kakak atau adik yang berkaitan dengan emosi anak adalah dengan mengambil posisi sejajar dengan anak, munculkan rasa empati, dan menamai perasaan mereka. Misalnya saat kakak tidak ingin memberikan mainannya, dan kakak marah dengan adik yang mencoba merebut mainannya. Maka namai perasaannya dengan mengatakan “kakak marah ya sama adik” atau saat adik yang akhirnya menangis karena tidak mendapatkan mainan dari kakak “adik sedih ya karena mainannya tidak dikasih kakak” Dengan begitu, kita sudah bisa mengajarkan anak mengenal emosinya sekaligus berempati.

Nah, untuk meminimalisir risiko sibling rivalry yang berujung baku hantam, ada beberapa hal yang saya lakukan.

Pertama, menyediakan waktu khusus untuk ‘we time’ bersama kakak dan ‘we time’ bersama adik. we time ini dilakukan di waktu yang berbeda, misalnya saat adik sedang tidur, saya bisa we time dengan kakak, begitupun sebaliknya. Di saat-saat we time inilah biasanya saya memperkuat bonding, sambil ngobrol menanyakan ‘tadi kakak nangis ya, karena apa ya itu? Berebut mainan sama adik ya?’ selanjutnya mengucapkan kalimat “mama sayang kakak, dan mama juga sayang sama adik. Dua-duanya anaknya mama, jadi semuanya mama sayang.”

Kedua, melibatkan kakak untuk membantu mengambilkan popok/celana/baju adiknya. Dan begitu pun sebaliknya. Tips ini saya temukan dibeberapa kali mengikuti kulwap dan menonton video youtube tentang mengatasi sibling rivalry. Tujuannya untuk menimbulkan kepedulian satu sama lain.

Ketiga, ketika kakak/adik ingin memukul, saya biasanya langsung memberi contoh bagaimana menggunakan tangan yang baik. Bukan memukul tetapi mengelus.

Keempat, membacakan buku yang bercerita tentang kakak yang menyayangi adiknya, dan adik yang menyayangi kakaknya. Anak menyukai yang namanya cerita atau bercerita, sehingga dengan membacakan cerita bisa menarik perhatian anak untuk melakukan hal yang sama dengan yang ada didalam buku. Sewaktu tanda-tanda sibling rivalry muncul, saya membeli buku anak yang judulnya aku sayang adikku, dan aku sayang kakakku, yang diterbitkan oleh penerbit Noura. Kalian juga bisa membeli buku yang sama atau yang berbeda juga banyak dijual.

Kelima, selain dengan bercerita, anak-anak juga suka bernyanyi. Wah, anak saya setiap hari pasti menyanyi sambil berjoget dan bertepuk tangan. Melihat kondisi itu, saya mengarang lagu dengan menggunakan nada lagu "Ku Jaga Diriku" atau "Sentuhan Boleh Sentuhan Tidak Boleh" dengan mengubah liriknya seperti ini:

“Tak boleh pukul, tak boleh pukul, di sayang, sayang (sambil mengelus kepala atau tangan)”

“Tak boleh pukul, tak boleh pukul, harus disayang (sambil mengelus kepala atau tangan)”

And it works bund. MasyaAllah ketika adik atau kakak mau memukul langsung teringat dengan lagu yang saya karang tadi. Yang akhirnya tidak jadi memukul.

Keenam, karena seringnya baku hantam terjadi saat rebutan barang, entah mainan atau buku yang biasanya sedang dimainkan oleh salah satunya (kakak/adik). Maka, untuk mencegah baku hantam itu terjadi, saya selalu memberitahu ke kakak/adik, kalau ingin memakai mainan yang dipegang oleh kakak/adik harus meminta izin dulu atau harus pinjam dulu ke kakak/adik, dan tidak boleh memaksa. Boleh dipakai kalau sudah dikasih pinjam oleh kakak/adik, dan ketika dikasih pinjam, ucapkan terima kasih. Alhamdulillah sejauh ini cara ini memberi hasil yang baik.

Cara ini juga mengajarkan mereka konsep bergiliran, konsep berbagi, dan mempertahankan haknya. Sehingga mereka bisa saling menghargai satu sama lain. Ya, terdengar dewasa sih, tetapi ini penting diajarkan sejak kecil sebagai bekal ketika anak mulai bersosialisasi dengan teman-temannya, anak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak memaksa memakai barang temannya. Karena kita sering ya menemukan anak-anak yang suka tertarik dengan barang atau mainan temannya. Hingga sering memakai barang tersebut tanpa izin bahkan memaksa.

Beberapa kali saya menjadi tempat bercerita oleh beberapa teman saya yang baru memiliki anak kedua, dimana kegelisahannya persis sama dengan apa yang saya rasakan. Sudah bisa dipastikan respon pertama kali kita adalah kaget tidak percaya, dan tidak menyangka jika situasinya akan sangat berbeda bahkan berbanding terbalik dari biasanya. Kita dibuat kaget dengan tingkah laku anak pertama yang tidak seperti biasanya, sebelumnya kakak adalah anak yang manis dan penurut, tetapi ketika hadir anggota baru alias adiknya, mengapa kakak memperlihatkan tingkah laku yang mudah memancing marah dan sedih? Ya, kakak lebih anarkis dari biasanya, kakak lebih manja dan mencari-cari perhatian, atau malah kakak lebih nyaman bermain dengan temannya atau anggota keluarga yang lain. Hal inilah yang sering membuat kita lemah, berpikir berhari-hari, bahkan terjadi pergolakan emosi yang cukup kuat. Biasanya respon kita akan lebih sering marah-marah dari sebelum-sebelumnya, dan akan sering menangis karena sulitnya diri kita menerima proses adaptasi peran baru sebagai ibu dari 2 orang anak atau lebih.

Oleh sebab itu, bagi teman-teman yang sebentar lagi kedatangan anggota baru dalam keluarga, bersiaplah menghadapi tantangan sibling rivalry, apalagi jika usia anak hanya berjarak 1-3 tahun saja.

Tips-tips yang saya paparkan juga mengalami pasang surut ya teman-teman. Tidak selamanya berhasil dan juga tidak selamanya gagal. Terpenting kita selalu mencoba ketika menemui kegagalan.

Semoga tipsnya bisa membantu. Kalau kalian punya tips yang lain, boleh banget share di kolom komentar ya. Terima kasih :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KELABU

BISING

Kesalahan Mengatasi Sibling Rivalry