Mereka Berbeda Tetapi Lahir dari Rahim yang Sama

Saya adalah ibu yang memiliki 2 orang anak yang selisih usianya hanya 12 bulan saja. Dimana keduanya berjenis kelamin perempuan. Karena kehadiran mereka, saya selalu mendapat inspirasi untuk terus menulis. Keseharian bersama mereka lah yang selalu memberikan cerita-cerita yang berbeda setiap harinya. Kedua anak saya yang meski lahir dari rahim yang sama, namun memiliki karakter yang berbeda. Orang tua yang memiliki 2 orang anak atau lebih pasti mengalami hal yang sama seperti saya.

Bagi saya, perjalanan mengasuh anak pertama didominasi oleh kebingungan, istilahnya meraba-raba. Ya, namanya juga anak pertama, yang artinya memberikan pengalaman pertama saya sebagai seorang ibu. Yang pertama kali memanggil saya dengan sebutan ‘mama’. Berkat kehadirannya saya jadi banyak belajar beragam ilmu parenting.

Anak pertama saya yang di 6 bulan pertama MPASI tidak pernah GTM (gerakan tutup mulut) sama sekali, diumurnya yang belum 3 tahun waktu itu masih sering mendengarkan perintah dan larangan untuk tidak melakukan ini dan itu, tantrumnya juga masih tergolong aman dan bisa saya tangani. Anak pertama saya ini juga perasaannya lebih peka. Ketika saya menangis dan merasa kesakitan, dia lah yang pertama memeluk bahkan ikut menangis. Masya Allah, peka sekali perasannya.

Akan tetapi, bukan berarti tidak ada tantangan yang saya dapati selama mengasuhnya. Ya, tantangannya ada diperkembangan bahasanya, sewaktu usianya 20-22 bulan perkembangan bahasanya membuat saya khawatir dia mengalami speech delay. Dari situ berbagai upaya pun saya lakukan untuk membuatnya banyak menguasai kosa kata. Alhamdulillah, setelah usianya menginjak 2 tahun, upaya yang saya lakukan membuahkan hasil. Sekarang anaknya sudah cerewet sekali. :)

Sedangkan perkembangan yang berbeda terlihat pada anak kedua saya. Saat MPASI di 6 bulan pertama didominasi dengan air mata. Hiks. Ya, air mata yang membuat saya kecewa akan proses MPASI karena seringnya GTM, masih baik kalau menolaknya dengan sekadar tutup mulut, tetapi ini berbeda karena tutup mulut yang disertai dengan menangis dan memberontak. Wah, ketika itu saya sangat kaget dengan responnya yang berbeda dengan kakaknya. Ditambah lagi saya yang tidak memiliki pengalaman mengatasi anak yang GTM. Sehingga saat itulah saya mulai banyak membaca referensi seputar MPASI dan juga mencoba berbagai macam menu makanan dengan karbohidrat, protein, lemak, dan sayur yang berbeda-beda. Tak lupa juga mencoba berbagai merk dan varian rasa dari bubur instan terfortifikasi. Selain pengalaman MPASI yang berbeda, anak kedua perkembangannya juga lebih cepat dari yang pertama.

Dia cukup cepat dalam perkembangan bahasa, dimana usianya yang masih 11 bulan sudah meguasai lebih dari 5 kosa kata waktu itu, dan usia 12 bulan sudah lancar berjalan. Dia pun lebih cepat memahami instruksi atau peraturan dalam permainan terstruktur. Tetapi, anak ini sangat ekspresif dan fase tantrum sudah muncul dari usia 1 tahun.

Masya Allah Alhamdulillah, perbedaan mereka membuat saya banyak belajar dan juga bersyukur. Betapa Allah memberikan saya anugerah yang luar biasa dengan keunikan dan keistimewaan mereka masing-masing.

Apakah saya pernah membandingkan mereka satu sama lain? Jawabannya iya.  Tetapi sebisa mungkin saya menahan untuk tidak membandingkan langsung di depan mereka. Ya, meski mereka masih terbilang kecil, mungkin belum mengerti kalimat perbandingan yang akan saya ucapkan. Tetapi saya meyakini bahwa perasaan mereka jauh lebih peka, dimana perasaan itulah yang memandu mereka merasakan sedih, marah, atau kecewa terhadap ucapan yang berpotensi melukai perasaannya. Lalu perbandingan yang dimaksud dalam bentuk apa? Dalam bentuk perenungan. Biasanya sih sebelum tidur malam, ayo siapa disini yang sama seperti saya? Sebelum tidur mikirin apa saja yang terjadi di hari ini. Hihihi.

Dari perenungan sebelum tidur itulah saya mencoba membandingkan mereka berdua dan mencari jawaban. “Kenapa anak yang sulung tidak secepat anak yang kedua dalam perkembangan?” dan “Kenapa anak yang bungsu tidak semenurut dan sekalem kakaknya?” Sebab selalu mendampingi mereka dan menyaksikan langsung tumbuh kembang mereka, membuat saya berpikir jika keduanya memilki karakter dan kebiasaan yang sama, tentu saya tidak akan belajar terlalu jauh, dan tentu saja ilmu dan pengalaman saya begitu terbatas dan tidak memberikan kesan yang berbeda.

Dua orang anak lahir dari rahim yang sama, tetapi memiliki karakter yang berbeda. Mereka adalah kebahagiaan yang luar biasa besar. Dengan adanya anak kedua, secara tidak langsung Allah memberi saya kesempatan untuk belajar dari kesalahan pengasuhan yang sebelumnya pernah saya lakukan pada anak pertama.

Entah sudah berapa buku yang tamat saya baca, entah sudah berapa kulwap dan seminar yang saya ikuti untuk mengupayakan yang terbaik sebagai orang tua. Meskipun pada situasi tertentu akan mengalami kegagalan. Tetapi balik lagi, ilmu parenting adalah upaya seorang manusia yang tentu memiliki keterbatasan. Sebaiknya jangan pernah berhenti belajar ketika menemui kegagalan.

Semangat ya untuk para orang tua di luar sana :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KELABU

BISING

Kesalahan Mengatasi Sibling Rivalry