3 Tahun Menjadi Ibu
Sudah 3 tahun lamanya saya menjalani peran sebagai seorang ibu. Dimana tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa menjadi orang tua memiliki banyak suka maupun duka. Perjalanan hidup yang tidak pernah saya temukan di fase kehidupan sebelumnya. Benar adanya, bahwa setiap perjalanan hidup memiliki ceritanya masing-masing.
Menjadi orang tua itu rumit dan kompleks tanggung jawabnya. Apalagi bagi saya yang sering sekali mengalami pergulatan batin ketika ekspektasi jauh dari realitanya. Jika sebelum memiliki anak, saya adalah pribadi yang cukup perfeksionis dan well prepare terhadap apa yang sudah saya rencanakan. Tetapi, ketika memiliki anak, jika saya menggunakan standar tersebut, wah sudah dipastikan saya akan stress berhari-hari. Oleh sebab itu, saya butuh waktu untuk berproses dari seorang yang perfeksionis masalah waktu ke seorang yang lebih legowo menerima realita.
Lalu, bagaimana dengan pola asuh yang diwariskan oleh orang tua saya dulu? Ya, pola asuh inilah yang sebenarnya paling berpengaruh bagi kelangsungan pengasuhan ini. Kita tahu sendiri lah ya, kalau di zaman sekarang, untuk mempelajari ilmu parenting sangatlah mudah. Bisa dari membaca buku, mengikuti workshop dan seminar parenting, serta bergabung dengan komunitas. Semua akses itu mudah sekali kita dapatkan hanya dengan bermodalkan internet, dan tidak perlu repot-repot keluar rumah.
Tetapi, bagi saya masalahnya adalah pola asuh yang dibentuk oleh orang tua saya menjadikan saya seorang yang sulit mengendalikan amarah, sumbu pendeklah istilahnya. Banyaknya larangan di masa kanak-kanak, dan dihukum dengan pukulan dan cubitan jika melakukan kesalahan. Intinya di didik dengan keras. Dimana didikan itulah yang menjadikan saya sulit untuk mengontrol diri ketika anak-anak memantik kemarahan.
Padahal saya tahu bahwa di usia balita, anak akan banyak mengeksplorasi hal baru diluar batas nalar seorang dewasa. Berulang kali menumpahkan minuman dan makanan, akan sering berkata “tidak” ketika diminta untuk mandi, makan, menggosok gigi, dll. Kata “tidak” yang diucapkan seorang anak adalah hal yang paling membuat saya kesal jika diucapkan pada saat kondisi yang tidk tepat. Apalagi urusan mandi dan makan yang merupakan rutinitas dalam skala prioritas. Kenapa sih gak mau mandi? Kan mandi tinggal mandi aja nak, kenapa mama musti bernegosiasi berjam-jam hanya untuk perkara mandi saja? Itulah salah satu situasi yang kadang saya berhasil bernegosiasi tanpa marah, tetapi sayangnya kesabaran saya juga masih sering ambyar.
Yang saya rasakan saat berada disituasi itu adalah dahsyatnya perdebatan yang terjadi antara sisi positif dan negatif di dalam diri saya. Positif yang membisikkan kalimat “sabar, sabar, tahan, tahan, gak boleh marah” sedangkan sisi negatif berbisik “udah, seret aja, cubit aja cubit” bisikan dari sisi positif adalah naluri seorang ibu yang sejatinya tidak akan menyakiti anaknya, tentunya didukung dengan belajar ilmu parenting dan anger management. Sedangkan sisi negatif adalah hasil dari didikan orang tua saya yang dulunya sering menghukum fisik.
Apakah saya membenci kedua orang tua saya karena hal itu? Tentu tidak. Karena saya paham betul orang tua zaman dulu masih sulit mengakses ilmu parenting, sulitnya buku dan juga fasilitas internet. Mungkin ada orang tua yang bisa belajar, tetapi tidak untuk orang tua saya yang juga memiliki keterbatasan.
Oleh sebab itulah, saya merasa menjadi orang tua tanggung jawabnya sangat berat, belajarnya setiap hari, suksesnya tergantung usaha, dan gagalnya akan sering dijumpai. Terutama bagi kalian yang juga memiliki luka pengasuhan yang sama seperti saya. Yang juga dulunya dididik keras, sehingga memberikan warisan luka yang berpotensi merusak. Namun satu hal yang perlu kalian ketahui bahwa memaafkan kesalahan orang tua dengan setulus-tulusnya adalah jalan untuk kita memutus mata rantai pengasuhan itu. Meski sulit bahkan mendarah daging, namun masih ada kesempatan untuk kita merubahnya selagi ada niat dan upaya kita untuk berubah. Pengasuhan ini bukan hanya tentang anak-anak kita, tetapi juga untuk diri kita sendiri.
Lalu, ilmu apa saja yang harus kita
pelajari? Sepengalaman saya ada 3 bidang ilmu, yakni ilmu agama, ilmu parenting, dan ilmu kesehatan mental.
Komentar
Posting Komentar