Perjalanan Menulisku
Awal
mula mengenal dunia menulis sewaktu duduk dibangku SMA kelas X, waktu itu guru
Bahasa Indonesia memberi tugas menulis cerpen. Saat itu pula saya mulai
menggunakan imajinasi yang seadanya, hehe, mengkonsepkan setiap apa yang muncul
dipikiran, cerita apa yang mudah saya tuliskan dalam bentuk cerpen. Akhirnya
memutuskan untuk membuat cerita pengalaman sendiri yang dikemas dalam bentuk
cerpen, dan sedikit ditambahkan ceita fiksi diluar pengalaman peribadi agar isi
cerpen lebih terlihat menarik. Sewaktu SMA pula saya memberanikan diri untuk
membuat sebuah cerpen untuk diterbitkan dimajalah kartini saat itu. Bapak saya
yang menemani ke toko buku untuk mencari majalah kartini, mulailah saya menulis
cerpen sesuai dengan syarat dan ketentuan yang ada. Kemudian mengirim naskah
melalui pos. Lama.menunggu pengumuman sampai tak ada kabar, mungkin naskah saya
tidak lolos. Tapi saya tidak berkecil hati, yang ada pengalaman itu menjadikan
saya lebih percaya diri.
Namun
sayangnya saya terlalu lama vakum menulis dikarenakan banyak aktivitas yang
harus dijalani. Kembali niat untuk menulis setelah hijrah ke Bandung meneruskan
studi di sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia. Setiap apa yang
saya lalui pada saat itu sukses membuat hati resah, entah disalurkan kemana
perasaan ini, mau cerita ke teman rasanya saya belum menemukan feel yang pas. Hingga akhirnya
memutuskan untuk menuangkan segala rasa ke dalam tulisan. Jika saya merasa
tulisan itu bisa memotivasi orang lain, saya upload difeed instagram, tapi jika tidak, cukup tersimpan dinote, dan hanya menjadi konsumsi
pribadi. Selama kuliah di Pascasarjana banyak cerita dan pengalaman yang saya curahkan
lewat tulisan, khususnya perjalanan menuyusun tesis yang subhanallah banyak
pengalaman yang saya dapatkan bukan cuma pengalaman akademisnya saja tapi juga pengalaman
emosional dan religi.
Setelah
dinyatakan lulus Magister Bimbingan dan Konseling, kegiatan menulis pun kembali
vakum karena ingin menghabiskan banyak waktu berdua dengan suami berhubung pada
saat kuliah kami LDR Jakarta-Bandung
selama 2 tahun, sehingga saya memilih untuk fokus menjadi full time ibu rumah tangga. Menjalani
hari-hari sebagai ibu rumah tangga dengan kegiatan yang sama setiap harinya
membuat diri merasa jenuh, puncaknya pada saat saya melahirkan anak pertama.
Rutinitas saya setiap hari hampir sama mengerjakan pekerjaan domestik, mengurus
suami, dan anak. Ketika suami berangkat kerja, anak tidur, dan kerjaan rumah
selesai, saya mulai bingung mau melakukan aktivitas apa lagi. Rasanya ingin
melakukan sesuatu yang bermanfaat, namun ide melakukan kegiatan itu belum
muncul. Hingga akhirnya saya memilih menghabiskan waktu bermain instagram. Hari
pun berlalu begitu saja, hingga saya sadar waktu luang yang saya gunakan untuk
bermain instagram tidak memberi manfaat yang ada mendatangkan mudharat.
Sampai
akhirnya saya iseng mencari akun tentang menulis yang ada di Instagram
ketemulah akun @nulisyuk yang waktu itu akunnya muncul paling atas dan sudah
memiliki banyak followers. Ikut dalam
batch 29 tema mahasiswa, @nulisyuk begitu banyak memberikan fasilitas, hingga saya
bisa aktif kembali menulis. Pertama kali mengikuti batch 29, naskah saya
terpilih untuk dibukukan dalam buku antologi, perasaan saya pada saat itu senangnya
luar biasa, pengalaman pertama yang begitu memberi kesan manis. Alhamdulilah
sekarang saya sudah memiliki tiga buku antologi, dua diantaranya antologi
bersama @nulisyuk yng berjudul "meraih toga" dibatch 29 tema
mahasiswa dan yang berjudul "produktif di rumah" dibatch 32 tema
istri dan ibu, sedang satunya lagi buku antologi bersama @ruang_nulis dan
@prokreatif yang berjudul "kau selalu punya alasan untuk bahagia".
Saya tidak pernah menyangka dalam waktu 5 bulan saja tulisan-tulisan saya lolos
untuk diterbitkan dalam tiga buku antologi. Bagi saya ini adalah hadiah dari
kesadaran diri yang ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat.
Semejak
bergabung dengan komunitas menulis, passion
menulis saya muncul kembali, dan membuat saya semakin tertarik dan ketagihan
untuk terus menulis. Dan semenjak itu pula saya memiliki banyak teman dengan
hobi yang sama, dari merekalah saya banyak menemukan akun-akun menulis yang
lain, yang juga membuka kelas menulis online yang berakhir dengan menulis buku
antologi.
Setelah
memutukan untuk kembali menulis, perasaan begitu tenang, merasakan kepuasan,
dan mood jauh lebih baik. Menulis
juga menjadi media saya curhat, karena berhubung di rumah cuma bertiga suami
dan anak, sedang suami kerja dan sering pulang malam, sehingga waktu saya untuk
ngobrol dan meluapkan segala perasaan tidak terkontribusi dengan baik, jadilah
saya memilih untuk menuangkannya lewat tulisan. Menulis juga menjadi tempat
saya menuangkan segala perasaan dan pikiran yang tidak bisa diucapkan dengan
kata. Menulis memang solusi terbaik jikalau perasaan dan pikiran sudah tak bisa
terbendung lagi.
Menulis
dalam kondisi memiliki bayi yang lagi aktif-aktifnya merupakan tantangan bagi
saya. Tak jarang baru mulai duduk manis depan layar laptop dan mengetik apa
yang sudah terkonsep dipikiran tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi yang ingin
segera dihampiri. Kondisi seperti itu sudah sering terjadi, ya mau bagaimana
lagi namanya saja bayi yang belum bisa memanggil kata “ibu” satu-satunya
komunikasi yang bisa bayi lakukan ya dengan cara menangis. Hehe. Maka tak
jarang keinginan untuk menulis tertunda lagi, yang tadinya apa yang sudah
terkonsep ingin segera ditulis tapi harus ditunda dulu, sering kali ide yang
sudah ada hilang begitu saja. Tapi bagi saya itu bukan menjadi persoalan,
justru hal seperti itu menjadikan diri semakin tertantang untuk tetap
konsisten.
Karena
tidak mudah untuk membuka laptop dan duduk manis di depan layar, karena pasti
ada bayi yang butuh perhatian dan pengawasan, maka saya memilih menulis apa
yang terlintas dipikiran lewat notes/google keep di handphone, yang bisa langsung disimpan ke google drive, jadi tidak perlu khawatir tulisan akan hilang. Teknologi
sudah sangat memudahkan ya. Itulah mengapa saya lebih memilih menulis setiap
ide yang muncul di handphone karena
lebih mudah dijangkau. Setelah banyak waktu luang barulah saya menyicil
memindahkannya ke laptop. Mengapa saya memilih untuk tidak menulis dibuku
catatan kecil? karena alasan sulit membawa kemana-mana buku dan pulpen yang
bisa saja saya kelupaan menyimpannya dimana, karena saya termasuk pribadi yang
kurang telaten menyimpan barang, makanya yang selalu diutamakan wajib ada ya
kebutuhan dasar seperti handpone yang
mana zaman sekarang handphone menjadi
barang wajib yang harus ada dimanapun tuannya berada.
Menulis
tidak perlu ide yang brilian, cukup tulislah apa yang kau pikirkan dan rasakan,
dengan begitu jari-jemarimu akan otomatis menuliskan semuanya (Raodhatul
Jannah, 2019).
Komentar
Posting Komentar